alexametrics

Indahnya Jalur Tol Kahyangan di Desa Wonolelo, Membelah Sawah Lereng Merbabu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid —  Pesona alam di Kabupaten Magelang memang tak terbantahkan. Contohnya, jalan cor yang membelah persawahan di lereng Gunung Merbabu di Desa Wonolelo viral sekitar empat bulanan, kini menjadi tempat wisata.

Jalan itu diberi nama Tol Kahyangan oleh warga sekitar.  Sejak punya nama, tempat ini makin ramai dikunjungi ribuan wisatawan.  Sayangnya, pengelola wisata belum mampu menghitung secara pasti berapa jumlah pengunjung rata-rata per hari.

Pengelola sengaja tidak menarik tiket masuk perorangan, mengingat belum ada ketetapan, bahwa lokasi ini sebagai tempat wisata resmi di Kabupaten Magelang. Penghitungan jumlah pengunjung hanya berdasarkan dari hasil penjualan tiket parkir. Untuk sepeda motor ditarik Rp 2.000, mobil Rp 5.000.

Wartawan koran ini menemui Suwadi. Ketua RT 01, Dusun Surodadi, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan. Tiap hari berada di lokasi, dan ikut mengelola Tol Kahyangan. Ia mengaku mampu menjual lebih dari 1.000 tiket parkir pada hari biasa (weekday). Kemudian sekitar 5.000 lebih tiket parkir saat hari libur (weekend).  “Sampai saat ini, nggak pernah sepi pengunjung,” aku Suwadi, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu, (17/10/2021).

Baca juga:  Bikin Gemas, di Kafe Ini Kita Bisa Bersantai Sambil Nongkrong Bareng Kucing

Apa yang membuat Tol Kahyangan ini heboh? Pantauan koran ini, Tol Kahyangan adalah sebuah jalan cor sepanjang 3 kilometer. Jalan itu seperti jalan bebas hambatan. Rutenya menantang. Berkelok, dan menukik. Sementara ujung jalan ini berada di Dusun Candran.

Secara geografis, Dusun Candran memang lebih tinggi dibanding dengan tiga dusun sebelumnya. Yakni Dusun Wonodadi, Dusun Pelem, dan Dusun Surodadi. Sehingga dari kejauhan, ujung Tol Kahyangan menembus kabut, bak kahyangan. Namun, kawasan wisata ini berada tepat di Dusun Surodadi.

“Apalagi kalau sore hari, kabutnya sudah turun. Kanan, kiri, dan ujung jalan ini diselimuti kabut. Yang kelihatan cuma yang di dekat-dekat kita. Serasa di Kahyangan hehe,” aku Suwadi.

Baca juga:  289 Pekerja Terjebak Banjir Rob di Tanjung Emas Semarang

Dari itulah, penamaan Tol Kahyangan muncul. Ia bercerita, nama itu diberikan oleh warga setempat yang pulang merantau dari Jakarta. Lalu melihat jalan tersebut sudah baik. Jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya yang berbatu. Orang tersebut, lanjut dia, berdiskusi dengan kadus setempat. Penamaan jalan itu pun disepakati.

Menurut dia, jalan tersebut berhasil dibangun atas perhatian anggota DPR Sudjadi. “Setelah selesai dibangun, ada pegowes, foto-foto, di-upload di medsos. Lalu jalan ini jadi viral. Belum lama kok, baru tiga atau empat bulanan ini,” akunya.

Melihat antusias wisatawan yang tinggi, pemerintah desa setempat dan warga sekitar sepakat mengelolanya lebih profesional. Penyediaan lahan parkir juga baru bisa diupayakan dua bulanan ini. Kata Suwadi, lahan parkir ini adalah lahan pertanian milik warga yang disewa.

Baca juga:  Santri Pondok Modern Darussalam Gontor Kembali Mondok Usai Libur Lebaran

Suwadi mengungkapkan, dari lokasi parkir ini akan diperluas 2,5 hektare. Ada rencana pembangunan panggung kesenian, beserta tempat penonton. Kapasitasnya 700 orang.

Pengunjung, Intan, 28, mengaku penasaran dengan Tol Kahyangan. Ia baru sempat mendaratkan kedua kakinya di Tol Kahyangan, kemarin. Ia berharap, tempat wisata ini terus disempurnakan. Tapi tetap mempertahankan kearifan lokal. Juga penetapan harga-harga menu makanan dan minuman yang tidak memberatkan bagi pengunjung. “Sekarang masih murah. Harga makanan dan minuman di sini seperti kalau saya beli di rumah. Harganya normal,” ungkapnya.

Tol Kahyangan ini berlokasi tidak jauh dari objek wisata Ketep Pass. Sementara pintu masuk Tol Kahyangan hanya berjarak beberapa meter dari kantor Pemerintah Desa Wonolelo. (put/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya