alexametrics


Kopi Liar Bercita Rasa Moka

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Kopi liar di Desa Ngargoretno, Salaman, Kabupaten Magelang menjadi salah satu komoditas unggulan di desa tersebut. Kopi liar mulai diolah sejak tahun 2011. Tanaman kopi tersebut tumbuh liar di kebun, jumlahnya pun masih terbatas.

Ahmad Bilal, petani kopi liar di Desa Ngargoretno mengatakan, tanaman kopi liar ditemukan secara tidak sengaja. Dulu warga Ngargoretno menemukannya saat melakukan konservasi lingkungan, mengingat wilayah tersebut rawan longsor.

“Dulu pas nanam kopi untuk konservasi, ternyata kok sudah ada beberapa pohon kopi tidak terawat kemungkinan ditanam nenek moyang,” ujar Bilal kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Ia mengatakan, pohon kopi liar tidak beraturan. Pohonnya lumayan tinggi dan biji kopinya kecil. Sambung Bilal, setelah penemuan itu oleh masyarakat sekitar diolah dan branding dengan nama kopi liar.

Saat wartawan koran ini datang ke Desa Ngargoretno Bilal menyuguhkan secangkir kopi liar. Meski jenis kopi tersebut robusta, namun sama sekali tidak pahit. Walaupun diseduh tanpa gula.

“Kopi liar ini bercita rasa moka sehingga tidak pahit. Selain itu juga tergantung pengolahannya” ungkapnya.

Dikatakan oleh Bilal, produksi kopi liar Ngargoretno terbatas, karena belum terlalu banyak yang membudidayakan.  Di desa Ngargoretno ada satu ribuan pohon kopi liar. Produk kopi liar Ngargoretno saat ini dikelola oleh Bumdes setempat. Dijual dalam bentuk bubuk maupun roast bean. Kebanyakan diolah dengan proses natural.

“Seratus gram dijual dengan harga Rp 30 ribu,” katanya. Produk kopi liar Ngargoretno pun telah  dijual ke beberapa wilayah di luar Kabupaten Magelang. Seperti Jakarta, Semarang maupun Jogjakarta. (man/lis)

 

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya