alexametrics

Tak Ada Pemasukan, Pengusaha Hiburan Konvoi Jual Sound System

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Puluhan anggota paguyuban sound system di Kabupaten Magelang menggelar aksi menjual barang, Senin (30/8/2021) siang. Hal tersebut dilakukan karena selama PPKM tidak ada pemasukan.

Anggota paguyuban melakukan konvoi, berkeliling dari Muntilan sampai Mertoyudan menggunakan mobil pikap. Sontak aksi konvoi mereka ini mengundang perhatian masyarakat.

Selain memasang beragam pamflet di pikap, mereka juga membunyikan sound system di sepanjang jalan yang dilewati. Masyarakat pun banyak yang penasaran. Tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut menggunakan handphone.

Dody Nurahman, koordinator aksi mengatakan, ide konvoi menjual aset direncanakan hanya dua hari. Dalam aksi tersebut ada 50 unit mobil pikap yang membawa sound system, tenda dan lampu. Acara tersebut diikuti oleh tiga paguyuban sound system yang tersebar di wilayah Kecamatan Muntilan, Dukun, Sawangan, Ngluwar dan Borobudur. “Sebenarnya kalau satu Magelang ada 800 unit mobil,” ujarnya.

Baca juga:  Satu ASN Beri Satu Bendera

Dody mengaku, selama pandemi ini persewaan sound system terpuruk. Apalagi untuk acara hajatan banyak yang dibubarkan. “Konvoi hari ini (kemarin, Red) dalam rangka jual aset. Karena masa pandemi dan PPKM kami tidak bisa kerja,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, para anggota paguyuban meminta agar ada  kelonggaran dari pemerintah untuk acara hajatan. Supaya nantinya peralatan sound system bisa disewa kembali. “Harapannya selama PPKM level 3 ini mbok iya untuk izin pernikahan dipermudah. Pernikahan bisa diprotokol kesehatan. Orang yang diundang bisa dibatasi,” kata Dody.

Lanjut Dody, selama PPKM  harus menjual beberapa peralatan sound system, untuk menyambung hidup. Total ia menjual asetnya sebesar Rp 25 juta.  “Saya jual alat sound itu Rp 25 juta buat makan,” ungkapnya.

Baca juga:  Walkman, Pemutar Musik Asyik Era 90-an

Dody mengaku dalam konvoi itu,  salah satu peralatan sound system milik temannya sempat ditawar Rp 70 juta oleh warga di jalan. Namun tidak ada kesesuaian harga. “Itu teman saya satu paket mintanya Rp 90 juta. Tapi nawarnya Rp 70 juta,” pungkas Dody. (man/lis) 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya