alexametrics

Paling Susah Pola Gambar Wajah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Nuryanto hanya satu dari dua puluhan perajin ukir bambu di Dusun Bleder, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur. Dia sudah melakoni pekerjaan ini sekitar dua dekade. Katanya, pekerjaan ini turun temurun.

Nuryanto mengukir bambu menjadi aneka hiasan dinding. Biasanya ia membuat motif bunga, burung, hingga karakter kartun. Dia berkarya menggunakan bambu hijau dan bambu hitam yang banyak dijumpai di kampungnya. Bambu yang diambil berusia minimal setahun.

Untuk membuat hiasan dinding ukir bambu, pertama ia menyiapkan gelondongan bambu yang sudah dipotong. Diambil bambu bagian  tengah. Setelah itu, buat pola pada gelondongan bambu menggunakan pensil.

Pola tersebut berfungsi sebagai penuntun hasil agar ukiran bambunya pas. Jika gambar dalam gelondongan bambu sudah jadi, bambu dipotong menjadi beberapa bagian kecil. Kemudian disusun lagi menjadi bentuk lembaran. Potongan-potongan itu disatukan kembali menggunakan benang bangunan.

Baca juga:  Minyak Subsidi di Pasar Tradisional Langka

“Untuk pewarnaan, saya menggunakan pewarna makanan,” ujar Nuryanto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (2/8/2021) siang. Dia memilih menggunakan pewarna makanan karena bisa menyerap ke bambu bagian dalam. Berbeda dengan cat besi atau kayu yang hanya menempel di permukaan. “Kalau sudah jadi, dipelitur biar mengkilap,” bebernya.

Untuk mengukir bambu sampai menjadi satu unit hiasan dinding berukuran kurang lebih 50 cm x 75 xm, Nuryanto bisa menyelesaikannya dalam sehari. Nuryanto mengukir bambu menggunakan alat ukir manual yang dibuat sendiri. Jenisnya sama seperti alat pengukir kayu. Namun, ukurannya lebih bervariasi.

“Saya pernah mendapat pesanan gambar wajah. Menurut saya itu pola paling susah, selain pola naga dan harimau,” ujarnya.

Baca juga:  Besek Desa Prajegsari Tembus Pasar Amerika Serikat

Selama ini Nuryanto menjual hasil karyanya kepada wisatawan di Candi Borobudur. Begitu Candi Borobudur ditutup akibat PPKM, Nuryanto sementara ini libur. Dia nyambi bekerja di bengkel las di Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid. Namun, kemarin ketika koran ini datang ke rumah produksinya, Nuryanto masih memiliki beberapa stok ukiran bambu.

Beberapa waktu lalu dia mendapat pesanan gambar Punokawan dari warga Purworejo. “Kebanyakan pesan gambar tertentu terus dikasih nama mereka,” ujarnya. (rhy/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya