alexametrics

Sulap Kayu Jati Sisa Gelondongan Jadi Peralatan Makan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Sejak lama Rahmad Joni, warga Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur bermimpi memiliki usaha sendiri. Setelah berhenti bekerja dari pabrik batu alam di Kecamatan Dukun, Rahmad pun merealisasikan mimpi. Dia menjadi perajin kayu sejak pertengahan 2019.

Mulanya dia membuat jam dinding berbahan baku akar pohon. Namun, mandeg begitu pandemi Covid-19. Rahmad lantas mengganti fokus dengan memproduksi peralatan makan berbahan kayu jati sisa gelondongan. Produk utamanya mangkok, cangkir, dan gelas.

Dari segi bahan baku, Rahmad memilih kayu jati karena mudah ditemui di lingkungannya. Malah banyak digunakan sebagai kayu bakar. Merasa sayang, dia lantas terinspirasi untuk meningkatkan nilai gunanya. Di samping itu, kayu jati dipilih karena tahan lama. Tekstur dan warnanya juga bagus.

Baca juga:  Nekat Curi Velg Mobil Saudara karena Sakit Hati

“Permintaan peralatan makan malah tinggi pas pandemi. Alhamdulillah juga nggak terpengaruh PPKM,” ujar Rahmad ketika ditemui Jawa Pos Radar Magelang di rumahnya, Kamis (22/7) siang.

Siang itu sedang melakukan proses produksi di bengkel bersama karyawannya. Proses produksi dilakukan semi mesin manual. Rohmad menggunakan mesin bubut yang dirakit sendiri.

Proses produksi dilakukan saban hari. Targetnya 50 buah per jenis alat makan. Namun karena keterbatasan mesin dan sumber daya manusia, terkadang realisasinya hanya 25 hingga 40 buah.

Terkait bentuk, Rohmad mengaku lebih banyak bermain feeling. Hanya dengan melihat dan membayangkan foto atau gambar. Dia jarang sekali memakai ukuran pasti.

“Memang dituntut ketajaman feeling. Dikira-kira saja. Nanti bagusnya bagaimana,” kata Rahmad. “Finishing-nya pakai food grade biar aman,” imbuhnya.

Baca juga:  Siapkan Tiga Hektare Lahan untuk Daur Ulang Sampah

Rohman memproduksi peralatan makan dengan sistem pre order (PO). Dengan durasi waktu pengerjaan maksimal dua minggu.  Pelanggannya dari Kabupaten Magelang, Jakarta dan Tangerang. Kebanyakan pemesan berasal dari kafe dan reseller. Di Kabupaten Magelang, Rahmad juga sudah memiliki empat reseller tetap.

“Paling jauh, sebelum pandemi malah pernah mengirim ke Athena. Tapi lewat agen dan trader,” ujarnya.

Harga peralatan makan bervariasi. Satu buah gelas dibanderol rata-rata Rp 25.000. Untuk cangkir, harganya Rp 25.000 hingga Rp 75.000.

Bahan baku juga menjadi kendala. Terkadang di harus mencari sisa kayu jati lebih jauh lagi. Melihat kondisi ini, Rahmad pun sudah berpikir keberlanjutan usahanya. Dia berencana mencari bahan baku alternatif. Seperti dari bambu maupun limbah-limbah kayu lain. “Karena kalau dipikir-pikir, saya juga nggak mau merusak lingkungan. Untuk menunggu masa tumbuh pohon jati kan lama,” bebernya. (rhy/lis)

Baca juga:  Jokowi : Percepat KSPN Borobudur

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya