alexametrics

Cinta Kasih Wujudkan Harmoni

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MUNGKID – Tahun ini di Candi Mendut dan Borobudur tidak ada perayaan Waisak secara besar. Seperti halnya sebelum pandemi. Umat Buddha diarahkan untuk merayakan Waisak di daerahnya masing-masing. Kotbah Waisak di wihara Mendut juga dilakukan secara virtual. Dengan mengusung tema “Cinta Kasih.”

“Kotbah virtual tidak live, sudah dibuat terlebih dahulu videonya. Membahas tentang cinta kasih.  Karena cinta kasih merupakan landasan untuk kepedulian dengan sesama,” ujar  Kepala Sangha Theravada Indonesia Bhante Sri Pannyavaro Mahathera saat ditemui di Wihara Mendut, Rabu (26/5).

Baginya, dengan cinta kasih akan muncul kerukunan, solidaritas sosial serta harmoni. Lanjut Bhante Sri Pannyavaro, pujangga Buddhis zaman Majapahit Empu Tantular juga telah menjabarkan soal cinta kasih dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Baca juga:  KUKM Center Belum Dimanfaatkan Optimal

“Cinta kasih adalah menerima perbedaan. Tidak hanya menghargai perbedaan saja,” jelasnya. Lanjut dia,  penjelasan tentang cinta kasih juga sangat relevan dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Di mana dibutuhkan semangat untuk kerja sama.

“Cinta kasih untuk meluhurkan bangsa. Sehingga bisa saling setia kawan. Tidak saling menjatuhkan.  Untuk maju bersama membangun negeri,” jelasnya. Dia menganjurkan umat Buddha bermeditasi di rumah atau wihara masing-masing. Sesuai protokol kesehatan.

Sementara itu, peringatan Waisak tahun ini juga bertepatan dengan doa rutin Upassata Manggala Krida di lapangan Kenari Zona 1 Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Rabu (26/5) pagi. Doa tersebut dilakukan dengan protokol kesehatan serta dikawal polisi.

Baca juga:  Guru SD Muhammadiyah Gunungpring Muntilan Ini Ciptakan Lagu di Sela Sekolah Daring

“Acara ini merupakan doa rutin. Bukan rangkaian perayaan Waisak. Untuk pengamanan, dari Polri sebanyak 39 personel ditambah 15 anggota TNI, jadi total 54 personel,” Kompol Maryadi, Kabagops Polres Magelang.

Prosesi Upassata Manggala Krida diawali penyalaan lilin dan dupa, Puja Bakti dan Dharma. Prosesi dipimpin Bhante Diktti Sempano Mahatherra dari Sekolah Tinggi Agama Budha Boyolali yang diikuti sekitar 38 orang umat Buddha.

Dilanjutkan Pradaksina mengelilingi Candi Borobudur sebanyak 3 kali putaran searah jarum jam. Sekitar pukul 09.10, peserta ibadah kembali ke Lapangan Kenari dan melakukan pembacaan Parrita penutup sebagai akhir prosesi Upassata Manggala Krida. (man/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya