alexametrics

Swadaya Bangun Menara Pantau Habiskan Rp 300 Juta

Dedikasi para Penjaga Merapi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Komunitas Komunikasi Peduli Aktivitas Gunung Merapi (Kompag) bekerja berdasar kemanusiaan. Tanpa bayaran. Mereka tergerak membuat menara dengan biaya swadaya.

Menara pemantau Gunung Merapi setinggi 12 meter berdiri gagah di Desa Talun Kidul, Banyudono, Dukun, Kabupaten Magelang. Menara tersebut milik komunitas Komunikasi Peduli Aktivitas Gunung Merapi (Kompag). Saat wartawan koran ini datang, Jatmiko Wisnu Broto, pengurus Kompag, mengajak untuk naik ke atas menara. Sayang siang itu kondisi Gunung Merapi sedang tertutup kabut.

“Biasanya kalau cuacanya cerah,  Gunung Merapi terlihat jelas dari menara” kata Wisnu. Alat untuk memantau Gunung Merapi yang terdapat di menara cukup sederhana. Berupa radio pancar ulang (RPU) untuk menangkap sinyal BPPTKG dari atas Gunung Merapi. Sebagai relawan Wisnu dan rekan-rekannya di Kompag serbaswadaya. Termasuk dalam pembangunan menara tersebut.

Baca juga:  Hujan Abu Merapi Sampai Temanggung

Biaya pembuatan menara Rp 300 juta ditanggung bersama oleh anggota Kompag. Mereka enggan meminta-minta. Kata Wisnu, orang yang terjun di komunitas Kompag harus berani tombok materi maupun tenaga untuk membantu sesama.

“Kami merasa tergerak membuat menara, untuk membantu mengamati Gunung Merapi. Guna diinformasikan kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Setiap hari mereka memantau aktivitas Gunung Merapi tanpa bayaran. Bermodalkan rasa kemanusiaan. Agar masyarakat di lereng Gunung Merapi tetap aman, terutama di sektor barat. Tidak hanya memantau lewat menara, anggota Kompag yang berjumlah 50 orang juga terjun ke lapangan. Seperti memantau aliran sungai bahkan juga membantu evakuasi warga ketika status Gunung Merapi naik.

Baca juga:  Antisipasi Debu Vulkanik, Stupa Borobudur Ditutup Terpal

“Kalau aktivitas Gunung Merapi naik, anggota Kompag otomatis menempatkan diri. Sesuai tugas masing-masing,” ungkapnya.
Komunitas yang berdiri sejak 2006 ini sedari dulu sudah terlibat aktif dalam penanganan Gunung Merapi. Bahkan sebelum Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang dibentuk.

Saat erupsi Gunung Merapi 2010 mereka harus pontang-panting dalam evakuasi warga maupun penanganan selama mengungsi.”Saat itu BPBD belum ada. Kemudian komunitas relawan juga jarang, ” ujar Wisnu.

Ia menambahkan, anggota Kompag sangat beragam. Dari latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda. Mulai dari tukang batu sampai pegawai pemerintah. Namun ketika sudah bergabung di Kompag semuanya sama, satu visi untuk kemanusiaan. (man/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya