alexametrics

Salak Nglumut Bisa Dinikmati di China, Kamboja, Thailand dan Jerman

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Di tengah pandemi Covid-19 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Luhur, Kaliurang, Srumbung Kabupaten Magelang tetap melakukan ekspor salak Nglumut. Beberapa negara menjadi tujuan ekspor seperti China, Kamboja, Thailand dan Jerman.

“Kami masih melakukan ekspor di musim pandemi. Karena tetap ada permintaan dari luar negeri. Meskipun jumlah tidak sebanyak dulu,” ujar Agus Suryono, ketua Gapoktan Ngudi Luhur. Ia mengatakan permintaan terbanyak di musim pandemi dari Kamboja. Dalam setahun 250 ton, China 150, Thailand 45 ton serta Jerman 3,5 ton.

Menurut Agus, angka ekspor tersebut masih terpaut jauh dari sebelum pandemi. Dulu dalam setahun mereka mengekspor salak Nglumut 1.226 ton ke empat negara tersebut.  Masalah distribusi ke luar negeri menjadi problem utama. Mengingat selama pandemi biaya transportasi menjadi mahal. Berimbas pada menurunnya harga salak Nglumut. “Karena biaya transportasi pesawat sangat mahal, maka harga salak diturunkan agat tetap terserap,” tutur Agus.

Sebelumnya salak Nglumut ekspor dibanderol dengan harga Rp 12 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Namun sekarang menjadi Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram. Kendati  begitu ia tetap bersyukur masih dapat mengekspor salak di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi. Agus menuturkan, salak Nglumut diambil dari 657 petani yang tergabung dalam Gakpotan Ngudi Luhur.

Ia berharap masalah distribusi bisa ditangani. Supaya biaya transportasi tidak melonjak. Agar ekspor salak Nglumut bisa kembali normal. Seperti halnya sebelum pandemi Covid-19. Agus menambahkan salak Nglumut diminati  karena kualitas. Rasanya manis dan daging buahnya tebal. “Salak Nglumut juga bisa tahan lebih lama,” jelasnya. (man/lis)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer