alexametrics

Terancam Banjir Lumpur Merapi, Candi Lumbung Direlokasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Candi Lumbung sebelumnya berada satu kompleks dengan Candi Pendem dan Candi Asu. Ketiganya membentuk pola segitiga. Namun kemudian, Candi Lumbung direlokasi ke Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Sawangan, Kabupaten Magelang.

Candi ini sangat dekat dengan permukiman warga. Tidak diberi pagar pula. Sebab, menurut Juru Pelihara Candi Lumbung Nurdianto, tanah tempat candi berdiri statusnya masih tanah warga yang dikontrak.

Ketika Jawa Pos Radar Magelang datang ke sana Senin (5/4/2021) siang, suasana tampak sepi. Hanya ada Nurdianto. Dia lantas mengajak wartawan koran ini mengelilingi candi. Dia menunjukkan satu per satu bagian candi. Sayang, proses eksplorasi tidak maksimal lantaran candi masih ditutup plastik. Hal ini untuk mengantisipasi erupsi Merapi mengingat statusnya masih siaga hingga.

Baca juga:  Siapkan Rp 6 M Uang Pecahan

Kata Nurdianto, sejatinya Candi Lumbung masih satu kompleks dengan Candi Pendem dan Candi Asu di Desa Sengi, Kecamatan Dukun.  Candi Asu berada di ujung barat, Candi Lumbung di sudut selatan, dan Candi Pendem di sudut utara. Masing-masing candi berjarak sekitar 300 meter.

Namun pada 2011, Candi Lumbung direlokasi ke Desa Krogowanan. Pasalnya, Candi Lumbung terancam banjir lahar dingin hasil erupsi Gunung Merapi. Mengingat lokasinya saat itu hanya berjarak sekitar satu meter dari bibir Sungai Apu. Proses relokasi saat itu berlangsung cukup lama. Memakan waktu sekitar tiga bulan. Memanfaatkan tenaga puluhan orang.“Saat itu kan mikir bagaimana caranya agar warisan nenek moyang ini selamat,” kata Nurdianto kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Candi Lumbung merupakan candi bercorak Hindu. Diperkirakan dibangun sekitar abad IX. Ketika Kerajaan Mataram Kuno dipimpin Rakai Kayuwangi.

Baca juga:  Positif Covid, 10 Peserta SKD CPNS Dijadwalkan Ulang

Candi ini berbentuk bujur sangkar. Susunannya terdiri dari batur, kaki candi, dan tubuh candi. Pada bagian kaki, terdapat hiasan yang menggambarkan sulur-sulur tumbuhan. Di bagian tangga, ada makara berkepala ikan yang mulutnya terdapat pahatan burung. Sementara di bagian belakang juga terdapat relief bejana dan raksasa. “Konon Candi Lumbung dulu digunakan untuk menyimpan hasil pertanian,” kata Nurdianto.

Nurdiantoro menilai Candi Lumbung sebagai peninggalan nenek moyang yang bernilai sangat besar. Nurdianto pun merasa senang dipercaya menjadi juru pelihara. Pria parobaya ini bertekad untuk berkontribusi menjaga kelestarian candi.“Saya ingin generasi-generasi mendatang tetap bisa menikmati candi ini,” ujarnya.

Kecuali hari Minggu, Nurdianto datang ke Candi Lumbung. Membersihkan bagian-bagian candi. Enam tahun menjadi juru pelihara, tangannya pun tampak lihai memainkan sikat dan sapu lidi kecil. Membersihkan lumut agar tak sampai mengerak. (rhy/lis)

Baca juga:  Hujan Angin, Pohon Bertumbangan, Belasan Rumah Rusak

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya