alexametrics

Manfaatkan Limbah Cobek untuk Kerajinan Batu

Amin Lisman Ragil Perajin Suvenir yang Tetap Eksis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Sudah 22 tahun Amin Lisman Ragil, warga Dusun Kretek, Desa Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, menjadi perajin suvenir. Mulanya dia bikin kerajinan bambu ukir. Kemudian beralih menjadi perajin batu cetak. Usahanya hingga kini masih eksis.

Amin memproduksi patung, stupa, maket Candi Borobudur, hingga relief. Pria paro baya ini memanfaatkan limbah cobek sebagai bahan baku. Dia mendapatkannya dari perajin cobek di Desa Keji, Muntilan. Biasanya dia membeli satu bagor dengan berat sekitar 15 kg.

Katanya, bikin patung dari batu cetak cukup mudah dan cepat. Seperti bikin batako. Hanya perlu menambah bahan baku dengan resin lantas mencetak sesuai bentuk yang diinginkan.

Baca juga:  Pemkab Magelang Bagikan 550 Paket Sembako

Usai dicetak, patung diukir. Amin menggunakan tenaga para ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya. Ada juga yang berasal dari desa tetangga. Sistem yang digunakan, sistem borongan.

“Cobek Muntilan kan batu asli. Hasilnya bagus. Warnanya hitam pekat,” ujar Amin kepada Jawa Pos Radar Magelang Rabu (24/3/2021) siang.

Menurut Amin, produk kerajinan batunya berbeda dengan para perajin lain. Ciri khasnya terletak pada ukiran. Baginya, ukiran membantu memberi kesan lebih hidup.

“Ini walaupun kecil kan kelihatan matanya,” imbuh Amin sembari menunjuk patung ganesha kecil di dalam etalase.

Sebelum pandemi, sehari Amin bisa memproduksi minimal 400 patung. Dia dibantu 10 karyawan.  Jika ditambah dengan tukang ukir borongan, Amin menyerap setidaknya 40 tenaga kerja.

Baca juga:  Delapan Pegawai Positif Covid-19, Kecamatan Salam Batasi Layanan

Terkait pemasaran, Amin menyuplai produknya ke 36 pedagang cenderamata di kompleks Candi Borobudur. Selain itu dia menyuplai penjual di sepanjang Jalan Magelang-Jogja, mulai dari Palbapang hingga Kecamatan Salam. Dia menjual produknya dengan harga mulai Rp 5.000 hingga sekitar Rp 250.000. Dalam sebulan, dia bisa mengantongi penghasilan setidaknya Rp 50 juta.

Pembelinya didominasi wisatawan luar daerah, termasuk wisatawan mancanegara. Oleh karena bergantung pada wisatawan, selama pandemi Covid-19 penjualannya anjlok. “Ini kan memang kodratnya jadi suvenir. Wisatawan datang dan beli produk ini,” bebernya.

Amin tetap berusaha memasarkan produknya. Dia mencari target pasar baru. Seperti menyasar pasar di wisata Candi Prambanan, Jogjakarta. Untuk menekan biaya, proses produksi juga dihentikan sementara.

Baca juga:  Pemilik Warung Bakso Balungan Pak Granat Gugat Pemkab Magelang Rp 5 Miliar

“Sambil menunggu stok habis dulu,” ujar Amin sembari kardu-kardus yang tersusun di sudut rumahnya.

Kendati pendapatannya menurun, Amin optimistis pandemi segera berakhir dan usahanya segera bangkit. Apalagi sekarang Borobudur sedang dikembangkan menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). “Pokoknya saya berusaha positif thinking aja,” ucapnya. (rhy/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya