alexametrics

Harga Kedelai Melambung, Produsen Tempe Berhenti Produksi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Tingginya harga kedelai membuat produsen tempe gelisah. Salah satunya Ngatinah, seorang produsen tempe asal Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Ngatinah bahkan sempat berhenti produksi. Katanya, harga kedelai naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram.

“Kemarin mandek tiga hari. Ini baru mulai bikin lagi. Soalnya ya, susah. Kedelainya mahal,” ujar Ngatinah kepada Jawa Pos Radar Semarang Minggu (3/1/2021).

Ngatinah membeli kedelai di Pasar Borobudur. Biasanya dia menghabiskan 5 kilogram kedelai untuk sekali produksi. Ngatinah membuat tempe dalam versi kecil seharga Rp 200 dan versi besar seharga Rp 500 per buah. Dari modal 5 kilogram kedelai, biasanya dia mendapat penghasilan Rp 70.000. Menyikapi hal ini, dia pun berharap harga kedelai kembali normal agar usahanya kembali lancar.

Baca juga:  Segarnya Es Semanggi yang Melegenda

“Sekarang kedelai mahal tapi kalau sudah jadi tempe susah naik harganya. Pada nggak mau. Ukuran tempenya mau dibikin lebih kecil, tapi kok nggak pantes,” katanya.

Ngatinah memproduksi tempe bungkus daun sejak 1990-an. Dia memproduksi secara tradisional. Masih serba manual. Sudah mengajukan proposal permohonan pengadaan mesin produksi kepada Pemkab Magelang, tetapi belum ada kabar. (cr3/ton)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya