alexametrics

Dua Kali Melahirkan, Dua Kali Harus Mengungsi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di tengah ramainya pengungsi Gunung Merapi di Desa Deyangan, Mertoyudan terdapat seorang bayi yang baru berusia 24 hari. Di usianya yang masih hitungan hari ia harus rela tinggal di pengungsian karena kampung halamannya masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III.

Seorang ibu Senin (16/11/2020) siang terlihat tengah menyusui anaknya yang masih bayi agar bisa tertidur pulas. Berulangkali bayi tersebut rewel akibat udara yang panas di lokasi pengungsian.

“Ini anak saya sulit tidur kalau udara di pengungsian panas,” kata Warti yang merupakan orang tua si bayi tersebut.

Sebelumnya Warti tidak pernah menduga ia bersama anak bayinya akan dievakusi ke tempat pengungsian. Sebelum ada pengumuman peningkatan status Gunung Merapi menjadi siaga III, ia bersama suaminya baru menggelar acara puputan untuk memberikan nama pada anaknya yang baru lahir tersebut.

Baca juga:  Santri Diajak Tangani Covid-19

Selang dua hari setelah acara puputan ia dikagetkan dengan pengumuman dari kepala dusun tempatnya tinggal, bahwa Desa Krinjing masuk KRB III. Warga harus mengungsi terutama orang-orang yang masuk kategori rentan termasuk bayi. Mendengar pengumuman itu Warti pun segera mengikuti arahan dari kepala dusun karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak bayinya itu.

Dengan tekad kuat, Warti berangkat ke lokasi pengungsian di Deyangan, Mertoyudan menggunakan mobil ambulan. Ia bersama anak bayinya, Mizan Alfa Nurohman, yang saat itu masih berusia 12 hari. Meski begitu, Warti sudah terlatih untuk mengurus bayi di lokasi pengungsian. Pasalnya, saat anak pertamanya berusia 1 bulan, ia juga harus mengungsi lantaran erupsi Gunung Merapi pada 2006.

Baca juga:  Siang Bolong, Pabrik Kayu Lapis Terbakar

Namun kata Warti, di pengungsian tahun ini ia harus bekerja ekstra dibandingkan saat 2006, karena anak keduanya itu sangat susah untuk tertidur di lokasi pengusiaan apalagi kalau udara panas. “Saya kurangi jam tidur di lokasi pengungsian demi anak bayi saya ini,” ungkapnya.

Kadang kala, suaminya yang masih ada di Desa Krinjing, harus mondar mandir ke lokasi pengungsian untuk membantu Warti mengurus buah hatinya agar tetap sehat. Warti merasa beruntung karena relawan di lokasi pengungsian peduli dengan bayinya, termasuk memberikan kebutuhan sang bayi.

Kendati begitu, Warti berharap status Gunung Merapi bisa kembali normal sehingga ia bisa pulang ke desa dan berkumpul kembali dengan keluarga. Ia merasa khawatir dengan anak bayinya tersebut selama di lokasi pengungsian terutama terkait kesehatan. “Senyaman-nyamannya tempat adalah rumah di desa, soalnya saya juga khawatir dengan kesehatan anak kedua saya ini,” jelasnya. (cr2/ton/bas)

Baca juga:  Sport Tourism Tren Baru di Candi Borobudur

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya