alexametrics

Warga Tiga Desa Diungsikan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Warga tiga desa di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang diungsikan ke tempat yang aman, menyusul meningkatnya status Gunung Merapi dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III), Jumat (6/11/2020).

Ketiga desa tersebut adalah Desa Krinjing, Desa Ngargomulyo  dan Desa Paten. Warga dievakuasi ke tiga desa, yakni Desa Deyangan dan Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, serta Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang telah menetapkan status tanggap darurat. Batas waktunya menyesuaikan rekomendasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Camat Dukun Amin Sudrajat mengatakan, warga di tiga desa yang dievakuasi tinggal di sembilan dusun, yakni Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karangayar, Trayem, Pugeran, Trono, Babadan 1 dan Babadan 2.

Diakui, tidak mudah untuk mengevakusi warga dalam waktu yang singkat.  Ia perlu memberikan pemahaman dan sosialisasi bersama pemerintah desa, akhirnya warga yang berasal dari kelompok rentan berhasil dievakusi.

“Kita hari ini (kemarin) sudah mengevakusi sekitar 561 orang. Dari Desa Paten sebanyak 263 orang, Desa   Ngargomulyo 172 orang, dan Desa Krinjing 126 orang” jelasnya.

Menurut  dia, jumlah pengungsi tersebut masih bisa bertambah mengingat ada yang melakukan evakuasi secara mandiri dan belum terdata oleh pihak kecamatan.

Untuk tempat evakuasi sendiri berada di tiga desa, yakni Desa Deyangan dan Banyurojo Kecamatan Mertoyudan, serta Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

Baca juga:  Buruh Tuntut Penerbitan Perpu

Untuk warga yang tidak berasal dari kelompok rentan dan belum dievakusi, Amin meminta untuk tetap waspada sembari bersiap diri ketika ada evakuasi lanjutan

“Kita masih pantau status Gunung Merapi bekerja sama dengan BPPTKG. Ketika statusnya naik, maka harus kami evakuasi,” katanya.

Sementara itu, sebanyak 126 warga Desa Krinjing dievakuasi ke Balai Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan pada Jumat (6/11/2020) siang. Warga yang diungsikan kalangan rentan, yaitu lansia, balita, dan ibu hamil.   Rinciannya, 36 pengungsi laki-laki dan 90 pengungsi perempuan. Mereka berasal dari tiga dusun, yaitu Dusun Trono,  Pugeran, dan Trayem.

Menurut salah seorang pengungsi di Balai Desa Deyangan, Sumi, ia dan warga lain tiba di sana sekitar pukul 11.00.  Sumi ikut mengungsi karena harus mendampingi ibunya yang sudah renta dan kehilangan pendengaran. Sebelumnya, mereka sudah dikabari pemerintah desa setempat jika akan dievakuasi. Sementara keluarga Sumi yang lain masih bertahan di rumah.

“Di sana masih aktivitas seperti biasa, Mbak. Kemarin masih ngarit. Tapi disuruh pemerintah turun ya manut saja. Semoga bisa segera pulang,” kata Sumi kepada Jawa Pos Radar Semarang,  Jumat (6/11/2020) sore.

Diceritakan Sumi, kondisi mereka dalam keadaan sehat. Ketika datang, kesehatan mereka segera diperiksa. Termasuk dites rapid. Menurut Bupati Magelang Zainal Arifin, langkah ini diambil sebagai standar awal untuk mendeteksi aman atau tidak dari Covid-19.

Baca juga:  Bersepeda Listrik, Nikmati Suasana Sekitar Borobudur

Posko pengungsian pun  didesain sesuai protokol kesehatan. Rapid test diberikan ke pengungsi sebelum masuk posko. Posko juga akan diperbanyak karena dari dari kapasitas yang dulu 100, sekarang menjadi  50.  Total ada 40 tempat evakuasi akhir (TEA) yang disiapkan Pemkab Magelang untuk mengantisipasi erupsi Gunung Merapi. Sementara terkait dana, Pemkab Magelang akan mengalokasikan Rp 5 miliar.

“Kami lakukan sekat-sekat untuk tempat pengungsian, kami bikin bilik-bilik” kata Zainal Arifin.

“Tadi langsung rapid test. Ada dua yang reaktif dan segera kami bawa ke rumah sakit terdekat untuk swab test,” imbuhnya.

Kondisi posko pengungsian yang  sesuai standar protokol pencegahan Covid-19 ini pun mendapat pujian dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ketika berkunjung pada Jumat (6/11/2020) sore, Ganjar mengecek kondisi posko dan para pengungsi.

“Ini tempat pengungsian yang sebenarnya saya inginkan. Malah jauh lebih baik dari yang saya mau,” kata Ganjar ketika masuk posko.

Ganjar juga memberi saran jika posko sudah tidak mampu menampung jumlah pengungsi, gedung sekolah bisa dijadikan alternatif. Begitu pun dengan pendirian tenda-tenda.  Selain itu, Ganjar juga meminta masyarakat lainnya yang masih bertahan di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III untuk tetap tenang. Sambil menunggu aba-aba dari petugas di lapangan maupun dinas terkait terkait waktu harus mengungsi.

Baca juga:  Berlangsung Meriah, Kirab Waisak Hibur Masyarakat

“Kalau kondisinya masih terkendali, tidak apa-apa,” kata Ganjar. “Tadi saya melihat di daerah Boyolali oke saja. Tidak ada masalah. Klaten yang berada di desa terakhir juga sudah paham betul. Katanya, dia tinggal menunggu diperintahkan harus mengungsi kapan,” imbuhnya.

Di sisi lain, pemantauan dengan alat peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di sekitar Gunung Merapi mulai disiagakan dan dipantau. “Kalau yang tidak ada ‘EWS’-nya, maka yang sifatnya tradisional harus disiapkan,” kata Ganjar.

Ia juga meminta kepada seluruh aparatur pemerintah setempat untuk siaga memantau warga. “Sampai ke pemerintahan level RT/RW supaya mulai memantau warganya,” pesannya.

Kabag Ops Polres Magelang AKP Maryadi mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan aparat keamanan di Kecamatan Dukun guna melakukan patroli selama status Gunung Merapi masih Siaga III

“Kami akan melakukan patroli sembari melakukan sosialisasi agar masyarakat yang belum dievakusi terus meningkatkan kewaspadaan” ujarnya.

Maryadi juga mengimbau bagi masyarakat yang sudah dievakuasi untuk menjaga protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Ia telah menempatkan personel Polres Magelang untuk membantu warga dengan menyediakan kebutuhan di dapur umum. (cr3/cr2/aro/bas)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya