Tinggal Tersisa Santri Nahun, Perkuat Ibadah Maqoman

236
Pengasuh Ponpes PI Tegalrejo, Muhammad Yusuf Chudlori dalam pengajian yang berlangsung di pondok. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Gedung berlantai tiga terlihat cukup megah. Suasana sepi sangat terlihat. Hanya beberapa santri yang berlalu-lalang. Jika di hari biasa, puluhan santri akan terlihat berjalan bergerombol mencari amalan.

Itulah pemandangan di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Disuatu sore bulan Ramadan, ditengah pandemi korona. Pondok pesantren yang memiliki santri 7.000 lebih ini, kini hanya menyisakan 400 santri laki-laki dan 1.000 santri perempuan. Bahkan suasana sepi akan terasa kembali, kala 1.000 santriwati dipulangkan satu minggu kedepan.

Koran ini berkesempatan mengunjungi Ponpes API Tegalrejo pada tanggal 8 Ramadan 1441 H. Pukul 16.05 sampai pondok. Pengajian oleh pengasuh pondok dibulan Ramadan dan ditengah pandemi korona, dilaksanakan dua kali dalam sehari, yakni sejak pukul 09.00 dan pukul 14.30. Selebihnya, santri lebih banyak kegiatan mandiri.

Isi pengajian dari para Pengasuh Ponpes, yakni ayyuhal walad. Yakni nasihat seorang guru kepada muridnya agar ilmu yang dikaji bermanfaat besok di akhirat. Ditengah pandemi, Ponpes API Tegalrejo pun juga menerapkan social distancing. Para santri yang masih tetap tinggal di pondok, mengikuti kajian ini. Namun dengan diberi jarak dan hanya beberapa puluh santri saja. Sedangkan santri putri, terpisah di pondok santriwati dengan mendengarkan melalui microphone yang tersambung sound system. Tidak digabung atau bersekat apapun. Sedang santri lainnya, ada yang memilih ibadah maqoman di kompleks Pondok API Tegalrejo.

“Maqoman atau membaca Alquran di makam Kyai Chudlori setiap Ramadan. Setiap sore, habis Ashar dan Maghrib. Bahkan ada yang sehari bisa lima kali maqoman. Maqoman ini agar mendapat washilah. Jarak makam pendiri Pondok Pesantren API ini dengan pondok hanya 500 meter,” kata santri senior, Fathoni, 28, asal Kabupaten Kendal.

Fatoni mengaku, ditengah pandemi ini, yang tinggal rata-rata santri nahun. Santri nahun, kata Fatoni, artinya selama tiga tahun tidak pulang ke kampung halamannya.“Total pondok ini ada 115 kamar yang terdiri dari tiga tingkat. Kompleks A-K. Satu komplek minimal 9 kamar. Satu kamar isi 40. Sekarang, satu kamar hanya 5 lima orang. Ada yang hanya satu orang. Banyak yang pulang,” imbuh santri yang mondok sejak tahun 2007 silam lalu.

Fatoni mengatakan, pihak pondok juga telah menerapkan kebijakan melarang santri untuk bepergian jauh dari pondok. Biasanya, kata Fatoni, santri bepergian hingga ke Pasar Tegalrejo untuk membeli takjil, kini dilarang. Santri, katanya, bisa membeli takjil dan sebagainya di warung-warung sepanjang jalan maqom.

“Santri hanya boleh di dalam Ponpes. Terjauh ya pas maqoman, dan itupun masih dalam area Ponpes. Pengajian juga menerapkan social distancing. Santri juga diminta untuk nderes atau mujahadah dengan berjarak pula,” imbuh pengelola Gus Yusuf Channel ini.

Fatoni memaparkan, suasana Ramadan kali ini berbeda, juga kegiatannya. Biasanya, kata Fatoni, dalam ramadhan ada setoran kenaikan kelas Al-Fiah juga dilakukan ayyuhal walad sekali dalam sehari. Ramadan kali ini, tuturnya, dalam sehari ada dua kali ayyuhal walad yakni jam 09.00 dan 14.30.“Tidak ada setoran kenaikan kelas. Santri lebih banyak maqoman,” ucapnya.

Fatoni menyebutkan, kegiatan para santri yakni sehabis subuh berjamaah, langsung maqoman Quran. Setelah itu, piket kebersihan masing-masing santri, perkompleks. Lalu pukul 09.00 ngaji kepada Kyai Haji Mudrik Chudlori. Kemudian dilanjutkan kegiatan mandiri.

Setelahnya pukul 12.00 para santri kegiatan tidur siang (qoilullah) selama satu jam. Lalu dilanjut sslat Dzuhur berjamaah.“Setelah itu, melakukan persiapan buat masak. Terus dilanjut Ngaji sama Gus Yusuf (KH Muhammad Yusuf Chudlori) jam 14.30. satu jam saja. Ngaji ayyuhal walad sengaja jam segitu biar santri yang pulang di rumah melalui daring bisa mengikuti kajian ini. Setelah itu salat Ashar berjamaah. Habis salat, lalu maqoman lagi. Dulu maqoman hanya satu kali. Maqoman dibimbing sama Kyai Haji Chanif Chudlori. Kmeudian buka puasa,” urainya.

Fatoni mengungkapkan, untuk kegiatan setelah berbuka puasa lebih padat dilakukan oleh para santri. Ba’da Maghrib, katanya, sering dilakukan santri untuk bermujahadah sampai Isya.“Setelahnya Tarawih dipimpin langsung oleh Kiai Haji Chanif Chudlori. Lalu semaan Quran satu juz, kiai membaca, santri menyimak. Sampai pukul 21.30. Setelah itu kegiatan mandiri lagi sampai pukul 24.00. Ada mujahadah lagi dan dibimbing oleh kiai haji Chaidar Chudlori sampai pukul 01.00. Hingga sahur, mandiri lagi. Kadang banyak yang maqoman lagi,” tutupnya. (had/bas)





Tinggalkan Balasan