Kemunculan Gas di Tengah Sungai Gegerkan Warga Salaman

340
Temuan gas berapi di aliran Sungai Tangsi, Dusun Drojogan, Desa Sriwedari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang menarik perhatian warga. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Temuan fenomena alam berupa kemunculan gas berapi di aliran Sungai Tangsi, Dusun Drojogan, Desa Sriwedari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, dinilai tidak dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar. Meski demikian, lokasi disekitar kemunculan gas tetap harus diwaspadai dan diberikan garis pengaman sesuai rekomendasi dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah.

Hal ini diungkapkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Susanto, Minggu (19/4/2020) saat dikonfirmasi. Hal ini, kata Edi, sesuai dengan laporan sementara dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan hasil peninjauan di lokasi kejadian munculnya Gas di Dusun Drojogan, Desa Sriwedari, Kecamatan Salaman pada Sabtu (18/4/2020).

Edi mengatakan, berdasarkan hasil laporan dari Dinas ESDM bahwa adanya tanda-tanda kemunculan gas diketahui pada hari pada hari Selasa (14/4/2020), dengan gejala munculnya gelembung udara di tengah aliran Sungai Tangsi yang berada pada sebelah hulu sebuah bendungan saat aliran sungai surut. Kemudian pada hari Jumat (17/4/2020) pukul 15.00, kata Edi, seorang anak mencoba memberikan percikan api dan ternyata gas dapat menyala.

“Lokasi kejadian secara geografi terletak pada koordinat BT 403.172 US 9.163.362. Sebagai tambahan informasi, pada lokasi tersebut baru saja dilakukan kegiatan normalisasi sungai yang selesai pada tanggal 7 April 2020,” katanya.

Edi mengungkapkan, berdasarkan analisis kejadian dari laporan Dinas ESDM bahwa lokasi kejadian berada pada bagian hulu sebuah bendungan yang telah dibangun pada jaman belanda. Daerah tersebut, menurutnya, memungkinkan menjadi area tertumpuknya material organik yang terbawa oleh aliran sungai. Beban sedimentasi yang terjadi pada aliran sungai, katanya, memberikan tekanan pada tumpukan material organik pada dasar sungai sehingga terbentuk gas.

“Rekomendasi yang diberikan bahwa harus membuat garis pembatas untuk mengamankan agar semburan gas tidak untuk permainan, dan potensi gas kurang signifikan untuk dikelola lebih lanjut. Sedang untuk saran dan tindak lanjut secara berkala dilakukan pemantauan untuk monitoring potensi dan kandungan gas, segera melaporkan kepada Desa dan Kecamatan apabila terjadi perkembangan yang signifikan, dan jika saat aliran sungai sedang surut dan titik semburan gas tidak terendam sebaiknya di bakar (dinyalakan api) sehingga tidak meacuni dan bisa segera turun tekanan gas tersebut,” imbuhnya.

Kepala Desa Sriwedari Supriyati mengaku telah menerima laporan dari salah seorang warga adanya fenomena alam yaitu keluarnya gelembung dan gas alam yang terjadi di Sungai Tangsi. Setelah mengecek lokasi tersebut, kata Supriyati, dirinya pun melaporkan ke BPBD Kabupaten Magelang untuk melakukan identifikasi maupun kajian terhadap fenomena alam tersebut.

“Kami menghubungi BPBD Kabupaten Magelang untuk minta tolong melakukan identifikasi atau kajian, apa yang sebenarnya terjadi,” katanya di lokasi.

Kadus Drojogan Nasirun membenarkan bahwa penemuan gas berapi tersebut Jumat (17/4/2020) sekitar pukul 15.00. Saat itu, kata Nasirun, anak-anak sedang bermain sepakbola dan melihat ada lubang keluar air yang bergelembung. Setelah itu, oleh anak-anal dicoba dinyalakan dengan korek api menyala.

“Kemarin waktu anak-anak main bola melihat ada lubang keluar air bergelembung mengandung gas. Kemudian sama anak-anak dicoba pakai korek api, kok bisa nyala,” tuturnya.

Nasirun mengungkapkan, setelah itu sempat turun hujan sehingga tiga titik penemuan gas tersebut tertutup arus air. Bahkan, menurutnya, BPBD bersama dari Polsek Salaman telah menuju lokasi. Namun saat itu, lokasi gelembung gas sudah tertutup arus air. Setelah air surut, baru terlihat nyala apinya.

“Adapun tadi di lokasi ada tiga titik, namun titik gas yang terlihat besar hanya satu. Di lokasi yang ada gas cukup besar, sengaja ditutup dengan kardus dan di sekitarnya dipasang tali. Selain itu, ada papan tulisan ‘untuk sementara dilarang bermain disini’.  Kami dari masyarakat Drojogan membuat portal supaya warga luar tidak masuk melihat gas itu. Tamu dari luar tidak boleh, kecuali mau meneliti atau pihak-pihak yang meneliti diperbolehkan,” bebernya.

Ketua BPD Desa Sriwedari Nurrohim membenarkan bahwa pihak desa lalu membuat portal untuk menutup akses. Hal ini, kata Nurrohim, untuk menghindari terjadi kerumuman warga luar yang berdatangan melihat fenomena alam ini.

“Takutnya banyak pengunjung penasaran, nanti sementara masih ada keadaan COVID-19, nanti kita malah bukan fokusnya yang membahayakan, tapi malah dari pengunjung yang membahayakan. Pokoknya sementara Dusun Drojogan tidak menerima tamu, pengunjung yang melihat sumber api,” tukasnya. (had/bas)

 





Tinggalkan Balasan