alexametrics

Diduga Petirtaan Terbesar di Jateng

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MUNGKID – Temuan bangunan yang ada di Dusun Mantingan, Desa Mantingan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang diduga merupakan candi atau situs petirtaan. Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah juga menduga, petirtaan ini adalah bangunan terbesar yang ada di Jawa Tengah dan DIY dan merupakan peninggalan abad ke-9 masehi.

“Dari ukuran yang kita temui itu sepanjang 22,5 meter dan ini petirtaan dengan tipe leter U yang pernah kita temukan. Ini yang paling besar di Jawa Tengah dan DIY. Karena beberapa candi petirtaan yang kita temukan itu rata-rata hanya berukuran 4 sampai 6 meter,” kata Pengkaji Cagar Budaya, BPCB Jawa Tengah, M Junawan, Jumat (2/8).

Junawan mengatakan, selama lima hari penggalian, tim telah menemukan dua sudut dari struktur bangunan candi, yakni sudut sisi timur dan sisi barat. Hasil temuan pada hari kelima ini mengindikasikan bahwa bangunan tersebut adalah candi petirtaan dengan tipe letter U.

Baca juga:  Libur Nataru, ASN Pemkab Magelang Dilarang Keluar Daerah

Candi Petirtaan Mantingan ini dimungkinkan sebagai tempat ziarah atau penyucian diri sebelum memasuki bangunan suci. Hal tersebut tampak pada temuan struktur sepanjang 22,5 meter dengan dua sudut sisi barat dan sudut sisi timur, dengan tipe letter U.

Dari hasil rekonstruksi, tim BPCB Jawa Tengah telah menemukan komponen batu sebanyak sembilan lapis dengan ketinggian lebih dari 2,5 meter. Bangunan candi petirtaan ini juga dilengkapi dengan ornamen pahatan yang detil dan kualitas batu yang baik, dan ukiran-ukiran batu pun dalam kondisi baik pula.

Junawan memaparkan, melihat adanya sumber mata air yang tidak jauh dari lokasi Candi Petirtaan Mantingan ini, ada kemungkinan air dialirkan dari sumber mata air tersebut. Dugaan ini terlihat dengan adanya temuan saluran air dari batu yang dipahat. Aliran air ini melintasi bagian atas dan membentuk pancuran air.

Baca juga:  Sehari, Dua Mayat Ditemukan

“Keluar dan masuk air lewat saluran air tersebut. Ada jenis-jenis saluran air yang kita temukan seperti itu. Ada saluran air yang masuk dan dikeluarkan lewat pancuran. Dari pancuran itu para peziarah menyucikan diri,” tandasnya.

Junawan belum berani menyebutkan secara pasti usia bangunan Candi Petirtaan Mantingan ini. Namun demikian, menurut pendekatan dengan pertanggalan relatif, usia Candi Petirtaan Mantingan ini merupakan peninggalan antara abad ke-8 dan 9 Masehi. Dari profil candi yang terlihat, bangunan dibangun pada masa klasik pertengahan dan mengarah pada agama Hindu.

Diperkirakan Candi Petirtaan Mantingan ada kaitan dengan situs Gunung Singa Barong yang terletak kurang lebih 50 meter dari lokasi penemuan. Selain adanya temuan lingga, yoni, arca Nandhi dan Ganesha,  hasil kajian lapisan tanah dan geologi pada situs Mantingan, terdapat kemiripan pada situs Gunung Singa Barong.

Baca juga:  Nuansa Heritage Masih Melekat di Sudut-Sudut Ruang SMPN 40 Semarang

“Secara kausalitas makro, situs Mantingan bisa terhubung dengan adanya situs Gunung Wukir serta Candi Losari juga,” paparnya.

Diduga runtuhnya situs Candi Petirtaan Mantingan ini disebabkan oleh bencana alam gempa bumi dan limpasan lahar dari Gunung Merapi. Bencana alam ini bisa terbilang sangat besar karena membawa bebatuan besar dan meruntuhkan bangunan candi, namun masih utuh.

“Kalau kita lihat belum ada interferensi dari manusia, tampaknya runtuhnya karena bencana alam, gempa dan disusul dengan limpasan lahar, sehingga banyak batu yang bergelimpangan dan terbalik. Kemungkinan struktur batunya pun masih lengkap,” tegasnya. (had/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya