alexametrics

Sudah Punya Konsumen Setia, Pemasaran Peyek Rawit sampai Luar Negeri

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di tengah melambungnya harga cabai akhir-akhir ini cukup memukul bisnis Peyek Rawit yang ditekuni Lilis Muamaroh. Meski demikian, usaha peyek pedas ini tetap berproduksi, bahkan semakin diminati konsumen.

Bisnis Peyek Rawit ini dirintis sejak 2011 silam. Saat ini, bisnis yang dikelola Lilis Muamaroh ini masih terus berjalan. Sekalipun harga cabai terus melambung. Berbagai pesanan selalu masuk, terutama untuk camilan peyek lombok.

Lilis mengaku, harga cabai yang melambung tinggi ini sebagai ujian dan cobaan yang harus dihadapi.

“Meskipun harga cabai tinggi, harga minyak tinggi, kita sebagai pengusaha harus tetap memproduksi. Apalagi sudah ada konsumen setia,” ucap pengusaha Peyek Rawit di Dusun Slokopan, Desa Sukorini, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang ini.

Baca juga:  Berhasil Mengungkap Kasus, Delapan Anggota Polres Magelang Kota Diganjar Reward

Lilis mengatakan, upaya yang dilakukan untuk menyiasati harga bahan utama yang tinggi, dirinya terpaksa menaikkan harga jual. Harga Peyek Rawit dinaikkan Rp 10 ribu per kilonya.

Ia menjelaskan, cabai yang digunakan merupakan cabai rawit kualitas terbaik. “Kita menggunakan cabai rawit, jadinya untuk tingkat kepedasan masih tidak terlalu pedas. Dan anak-anak masih bisa memakannya,” jelasnya.

Berawal dari coba-coba dan kegemaran keluarga dengan makanan pedas, Lilis mencoba berinovasi dengan membuat camilan pedas. Namun camilan ini bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai anak hingga orang dewasa.

Ia mengaku awal mula membuka usaha Peyek Rawit ini selain coba-coba, juga mencoba meneruskan usaha orang tua.

Baca juga:  Kuda Lumping Gebrak Panggung Kahanan Magelang

“Dulunya ibu saya jualan kerupuk. Jadi, waktu itu saya sekalian mencoba membuat peyek sebagai sampingan. Lha kok malah peyeknya yang paling diminati. Jadinya mulai 2011 itu saya lebih fokus membuat peyek,” ceritanya kepada wartawan koran ini.

Lilis mengatakan, selain menjual Peyek Rawit, dirinya juga menjual berbagai macam peyek. Seperti peyek kacang, peyek teri, peyek rebon, peyek kacang hijau, dan berbagai jenis peyek lainnya.

Ia menjelaskan, dalam sehari dirinya bisa membuat 20-30 kilogram peyek. Usaha rumahan milik Lilis ini ternyata memiliki konsumen luas. Tak hanya kota-kota di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tapi sampai luar pulau Jawa, bahkan luar negeri.

Baca juga:  Ada Siswa yang Positif Covid, PTM Dihentikan Sepuluh Hari

Lilis mengaku, selama ini penjualan langsung ke konsumen dan melalui online. “Kita masih belum menjual dengan menitipkan ke toko oleh-oleh. Hanya melalui reseller atau langsung pesan lewat online,” ujar ibu dua anak ini.

Ia berharap, usahanya ini bisa terus berkembang. Sehingga bisa membantu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, terutama tetangga sekitar. Saat ini, ia dibantu tiga pekerja, yang merupakan tetangga sekitar rumahnya.

“Kalau hari biasa tiga orang. Namun kalau pas bulan puasa dan banyak pesanan, biasanya nambah satu orang lagi,” katanya.

Harga Peyek Rawit produksi Lilis terbilang masih terjangkau. Setengah kilogram dijual Rp 40 ribu. (rfk/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya