alexametrics

Empat Gerbang Masuk Terinspirasi Relief Borobudur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kawasan Borobudur di Magelang, Jawa Tengah memiliki empat gerbang masuk yang ikonik. Yakni Gerbang Kalpataru di Blondo, Gerbang Singa di Pabelan, Gerbang Gajah di Kembanglimus, dan Gerbang Samuderaraksa di Klangon, Kulonprogo.

Keempat gerbang yang baru dibangun tersebut berfungsi sebagai penanda bahwa masyarakat telah memasuki kawasan wisata Candi Borobudur. Masing-masing memiliki filosofi.

Arkeolog Balai Konservasi Borobudur (BKB) Magelang Hari Setyawan mengungkapkan, masing-masing ikon terinspirasi dari relief Candi Borobudur. Gerbang Singa di Palbapang merupakan manifestasi arca penjaga berbentuk singa.

Terdapat di depan tangga menuju ke struktur Candi Borobudur. Dalam bahasa Sansekerta, singa disebut simba. Yakni melambangkan keagungan, kekuatan spiritual, dan keberanian. “Menjadi penangkal pengaruh buruk dan jahat pada bangunan suci bercorak keagamaan Buddha,” terang Heri.

Singa yang dimaksud, disebut pendiri agama Buddha Sidharta Gautama sebagai singa yang berasal dari keluarga Sakya. Seperti nama kecilnya yakni Sakyamuni. Singa tersebut melambangkan penjaga dharma dan elemen yang digambarkan dalam tahta (lapik, landasan) Buddha atau Bodhisatwa.

Selain itu, juga menjadi penjaga singgasana Bodhisatwa dan tunggangan para dewa. “Bisa dijumpai di relief cerita Jataka atau Awadana. Namun singa yang dijadikan ikon tersebut merupakan singa Asia sehingga tidak dijumpai di Jawa Kuno,” tandasnya.

Patung singa yang merupakan manestasi arca penjaga di depan tangga menuju Candi Borobudur yang melambangkan keagungan, kekuatan, spiritual dan keberanian. (M Iqbal Amar/Jawa Pos Radar Semarang)

Sementara itu, lanjut Heri, simbol Gerbang Kalpataru tidak lain diambil dari tanaman kalpataru. Pohon tersebut bermakna bisa mengabulkan keinginan dan memberikan kesejahteraan. Menjadi simbol kehidupan karena mengayomi segala bentuk kehidupan dari kahyangan hingga dunia. Kalpataru juga melambangkan perlindungan, pengayoman, kesejahteraan, dan kekayaan.

Berdasarkan mitologi Hindu-Buddha, Kalpataru termasuk salah satu dari lima pohon suci di alam para dewa. Disebut sebagai pancareksa. “Lainnya ada mandala, parijata, santana, kalpareksa, dan harijandana, termasuk cendana,” terangnya. Kalpataru juga diidentifikasi atau disamakan dengan pohon Bodhi. Diambil dari pahatan relief dari Candi Pawon dan Candi Borobudur.

Baca juga:  289 Orang Antusias Suntik Vaksin

Gerbang Gajah di Kembanglimus merupakan perwujudan Bodhisatwa yang memiliki peran utama. Di antaranya sebagai binatang gaib, memiliki nilai kekuasaan dan keberanian, simbol kekuatan, penjaga keseimbangan, dan mewakili sifat keagungan. “Dalam bahasa Sansekerta adalah gaja. Gajah sendiri juga digambarkan dalam relief Lalitawistara,” terang Heri

Secara harfiah, lanjut Heri, kondisi saat ini, gajah melambangkan kekuasaan, keberanian, kekuatan, penjaga keseimbangan dan keagungan. Gajah juga sering dipahatkan sebagai ahsana atau alas untuk duduk bagi manusia yang dianggap memiliki kekuatan agung yang mempengaruhi seluruh dunia. Gajah ini dijumpai juga di Candi Mendut. Menggambarkan pahatan gajah sebagai tempat duduk Bodhisatwa. “Kalau dari cerita Jataka, gajah itu perwujudan dari Bodhisatwa yang mengajarkan budi pekerti kepada manusia. Dilambangkan memiliki kekuatan besar, kecerdikan, dan rela mengorbankan diri,” tandasnya.

Binatang gajah dianggap sebagai binatang gaib, memiliki nilai kekuasaan dan keberanian, simbol kekuatan, penjaga keseimbangan, dan mewakili sifat keagungan.(ROFIK SYARIF G P/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Berdasarkan manuskrip atau relief Jataka Awadana yang ada di Candi Borobudur, pada zaman Mataram Kuno hingga masa awal kerajaan Islam di Jawa, gajah dimanfaatkan sebagai alat transportasi dalam prosesi upacara kendaraan pasukan dan raja. Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada pahatan relief Candi Mendut dan Candi Borobudur adalah Gajah Jawa. “Namun sekarang tidak ada karena sudah punah sejak abad 13,” jelas Heri.

Terakhir adalah Gerbang Samuderaraksa. Merupakan jenis kapal yang dijumpai pada saat Borobudur atau kerajaan Mataram Kuno berkembang menjadi kerajaan besar. Kondisi lingkungan Jawa kuno pada saat itu yakni abad 8 -10 masehi juga digambarkan pada relief. Kapal tersebut berfungsi sebagai alat transportasi. “Artinya adalah tipikal kapal yang digunakan oleh kerajaan Jawa kuno untuk aktivitas perdagangan dan kemiliteran (invasi),” papar Heri.

Baca juga:  Akmil Sumbang Taman Publik

Heri mengungkapkan, bahkan Kapal Samuderaraksa digunakan untuk berlayar sampai ke Madagaskar, Ghana, hingga benua Afrika. Hal ini menunjukkan bahwa dulu memang merupakan negara selain agraris juga di sektor maritim. Bahkan kekuasaannya sampai ke daratan Asia Tenggara.

Berdasarkan mitologi Hindu-Buddha, Kalpataru termasuk salah satu dari lima pohon suci di alam para dewa.(ROFIK SYARIF G P/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kalpataru Paling Sulit Dibuat

Empat gerbang ikonik di pintu masuk Borobudur dibuat oleh satu seniman. Ia adalah I Nyoman Alim Mustapha, 69, perupa asal Bali yang kini menetap di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Patung kalpataru menurutnya yang tersulit dalam pembuatannya. Namun, demikian kesulitan tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri.

“Kalau pengerjaan paling sulit, seperti kalpataru mungkin agak sulit juga. Terutama detail desainnya yang cukup rumit. Namun, bagi kita memang tantangan itu lebih menyenangkan. Kita memang senang berinovasi, justru pekerjaan-pekerjaan yang menantang dan semakin sulit, semakin menyenangkan,” ujarnya.

Nyoman Alim mengatakan dalam proses pembuatan empat patung ini, ia melibatkan sekitar 100 orang. Pengerjaan patung dimulai April 2021 di sanggar seni. Bahan utama patung menggunakan bahan alumunium yang dicor.

“Untuk bahan-bahannya kalau patung singa, gajah dan kalpataru itu dari aluminium dicor. Semua pengerjaan di sini (sanggar), dirakit di sana (lokasi masing-masing). Dengan proses pengerjaan sekitar enam sampai delapan bulan untuk tiga gerbang. Kalau gapura sendiri background dari bahan pasir kuarsa, kita mix dengan semen putih. Itu hasil inovasi terbaru kita,” jelasnya.

Selain gerbang kalpataru, ketiga gerbang lainnya yakni gerbang gajah atau dikenal gerbang kembanglimus. Gerbang ini merupakan gerbang yang berada di Desa Kembanglimus, dan sebagai tanda pintu masuk wisatawan dari arah Purworejo. Berjarak empat kilometer dari Candi Borobudur.

Kemudian dari arah Jogjakarta ada gerbang Palbapang, dengan ikon singa. Dan terakhir ada gerbang dengan ikon Kapal Samudera Raksa. Gerbang ini merupakan pintu masuk dari arah Kulonprogo.

Baca juga:  Pembunuh Bidan Sweetha dan Anaknya Mengaku Dihantui Korban selama di Penjara

Wakil Sementara General Manager Unit Borobudur dan Manohara PT TWC Pujo Suwarno mengatakan empat gerbang ini merupakan upaya dari pemerintah untuk meningkatkan daya tarik wisata di kawasan Candi Borobudur. Apalagi gerbang ini masih terikat sangat kuat dengan Candi Borobudur itu sendiri sebagai magnet utama.

Ia menjelaskan, untuk gerbang Palbapang ini menjelaskan tentang arkeologi atau seni pahat yang menyuguhkan sebuah patung singa yang berukuran besar. Kemudian di gerbang utara akan bertema Kalpataru, dengan konsep semacam Borobudur Botanical Park. Hal ini ditampilkan dalam bentuk satu kawasan kebun raya. Orang bisa belajar tentang Borobudur dari sisi tanaman-tanaman yang ada di relief candi. “Hal ini sedang kami diskusikan dengan Pemkot Magelang terkait konektivitas antara dua destinasi di Kota Magelang, yakni Kebun Raya Gunung Tidar dan Taman Kyai Langgeng yang sedang kami kurasi dari sisi tanaman-tanaman,” katanya.

Menurut dia, hal tersebut akan digunakan sebagai suatu narasi untuk keterkaitan benang merah antara Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya. Salah satu contohnya di Taman Kyai Langgeng ada tanaman kalpataru.

Selanjutnya, konsep dari gerbang barat adalah fauna dalam hal ini gajah. Di panel relief Candi Borobudur terdapat 17 cerita binatang (fabel), ada cerita kijang mas, pengorbanan gajah, cerita kelinci dan sebagainya.

Kemudian gerbang selatan dengan tema kemaritiman ada miniatur kapal Samudera Raksa. Ada delapan kapal di panel relief Candi Borobudur, salah satunya kapal Samudera Raksa. “Bisa terbayang di sepanjang Kali Progo prototipe kapal yang ada di relief candi ini bisa dipajang di radius sekian kilometer. Artinya ini menjadi trip arung jeram ada short, medium, dan long,” katanya. (mia/rfk/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya