alexametrics

Anggur Dilirik Jadi Pasar Potensial

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang ajak masyarakat bertani anggur di lahan terbatas. Yakni memanfaatkan pekarangan sekitar rumah. Baik di lahan pribadi, maupun di jalan-jalan perkampungan. Target ke depan, Kota Magelang menjadi destinasi wisata anggur.

Kepala Disperpa Kota Magelang Eri Widyo Saptoko mengungkapkan alasannya memilih budidaya anggur. Buah tersebut dinilai sebagai komoditas yang strategis dan memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Yang terpenting subsisten. Bisa dimakan sendiri untuk konsumsi keluarga, tapi bisa juga dijual untuk meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya saat menggelar pelatihan budidaya anggur, di Rumah Putih Kalpataru TKL Ecopark, Selasa (17/5).

Eri menyebut, Kota Magelang harus menerapkan urban farming atau pertanian perkotaan, karena lahan pertanian tersisa 161,34 hektare. Terdiri dari sawah seluas 142,83 hektare dan  18,51 hektare tegalan. Sedangkan pekarangan dan permukiman sekitar 1.234,85 hektare. Dengan estimasi 20 persennya adalah lahan pekarangan, atau sekitar 250-an hektare. “Yang banyak memang lahan pekarangannya, maka lahan pekarangan di kampung-kampung kita genjot untuk budidaya anggur,” tuturnya.

Baca juga:  Wujudkan Pemerintahan yang Nyawiji

Menurut Eri, budidaya anggur secara masal akan menjadi daya tarik wisata. Karena itu, ia memberikan pelatihan kepada masyarakat dan memberikan satu bibit anggur pada peserta.

Suharyono, narasumber pelatihan asal Cacaban, Magelang Tengah, menyebut, suhu udara di Kota Magelang cocok untuk budidaya anggur. Ia sendiri mempraktikkan, dan selalu berhasil.

Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz berharap, budidaya anggur bisa menjadi hobi. Syukur-syukur menambah ekonomi masyarakat. Ia juga menyarankan agar pembudidayaan anggur bisa dilakukan bersama-sama antarrukun tetangga dengan diatur kerja sama yang jelas. Ia bolehkan menggunakan dana RT pada program Rodanya Mas Bagia, yang tiap RT mendapat suntikan dana pemberdayaan masyarakat Rp 30 juta per tahun. (put/lis)

Baca juga:  Uji Coba Pembelajaran Daring Radio

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya