alexametrics

Beli Jas Hujan selalu Tidak Pas, Akhirnya Produksi Sendiri

Mega Febriani, Warga Kota Magelang Ciptakan Jas Hujan Cantik dan Fashionable

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Mega Febriani contoh anak muda yang visioner. Ia menjadi pengusaha muda sejak usia 19 tahun. Mega adalah pemilik Coates, brand jas hujan lokal asal Kota Magelang. Seperti apa ?

Beli jas hujan berukuran besar, salah. Ganti ke ukuran kecil, juga masih salah. Itulah pengalaman Mega Febriani tiap kali membeli jas hujan. Tidak pernah kebeneran. Jika membeli dengan ukuran besar, terasa longgar dipakai, malah kepanjangan. Giliran beli jas hujan sesuai ukuran badan, terasa sesak dan mudah sobek. Serba salah kan?

“Saya kan gendut, nggak terlalu tinggi. Jadi, kalau cari jas hujan, susah banget,” aku Mega, sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia membayangkan punya jas hujan yang enak dipakai, tapi tidak kedodoran. Kebetulan, ia mendapat tugas membuat produk ketika dirinya kuliah jurusan kewirausahaan. Iseng-iseng Mega mewujudkan angan-angannya itu. Membuat jas hujan dengan model pola A, seperti model baju gamis. “Sekalian buat trial and error,” ucapnya.

Ia pun bekerja sama dengan desainer asal Magelang agar jas hujan yang dibuatnya tidak bocor pada bagian leher. Namun tidak mencekik leher. Selain itu, ia membuat jas hujan all size atau untuk segala ukuran yang fashionable.  “Saya ingin pemakainya tetap terlihat cantik walaupun kehujanan,” ungkapnya.

Baca juga:  Pengenalan Unimma Berlangsung Daring

Perempuan kelahiran 9 Februari 1997 itu mulai memproduksi jas hujan pada 2017. Ibunya yang membantu menjahit.  Suatu keberuntungan, dia mendapat bantuan program mahasiswa wirausaha (PMW) sebesar Rp 15 juta pada 2017.

Setahun kemudian, kembali mendapat bantuan, namun dari program kegiatan berwirausaha mahasiswa Indonesia (KBMI) sebesar Rp 14 juta.

Pada 2020, ia kembali mendapat suntikan modal. Kali ini dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop-UKM) sebesar Rp 10 juta. “Bantuan itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan usaha saya,” ujarnya.

Jika mengingat masa-masa percobaan produk, ia akan mesam-mesem sendiri. Sebab, saat itu, produknya belum sebagus sekarang. Namun sudah diminati pasar. Sekarang ia mampu memproduksi 500-700 pcs jas hujan. Pemasarannya sudah hampir ke seluruh Indonesia.

Baca juga:  51 PPS Kota Magelang Dilantik Bergantian

Soal pemasaran, hanya mengandalkan saat pameran, pemasaran online, dan memperkuat jaringan reseller dan agen. Khusus untuk pengembangan pemasaran online, ia dibantu dua karyawan.

Khusus menjahit, ada lima orang. Semuanya adalah ibu-ibu, dan dikerjakan di rumah masing-masing. Sedangkan finishing, dua orang.  “Tapi sampai sekarang, saya belum punya toko,” ujarnya.

Keunggulan produknya adalah satu ukuran yang bisa dipakai semua orang. Baik yang berperawakan besar maupun kecil. “Konsumen nggak perlu ribet dengan ukuran S, M, atau L, karena kita punya satu ukuran yang bisa dipakai semua orang,” imbuhnya.

Meski produk jas hujannya dijahit, namun pada bekas jahitannya ditutup seam seal. “Jadi nggak akan bocor,” imbuhnya. Dia membanderol produknya mulai Rp 150 ribu-Rp 230 ribu.

Di musim penghujan, penjualannya kenceng. Namun di awal 2022 ini, ia merasakan sedikit sepi. Tantangan lain adalah musim panas. Bahkan dia sempat tekor, karena nyaris tak ada pembeli. “Sebelum pandemi (hawanya, Red) sempat panas banget kan itu, modal saya sampai habis,”  ceritanya.

Baca juga:  Wali Kota Magelang Targetkan 75 Persen Vaksinasi

Dia tak patah arang. Ia menyelamatkan diri dengan membuka usaha lain. Yakni, berjualan minuman kekinian. “Saya jalani dua usaha, sampai sekarang semua saya tekuni,” katanya.

Mega mematri semangat dalam dirinya. Agar tak mudah goyah, ketika kesulitan menghadangnya. “Selain itu, niat yang paling utama,” akunya.

Tidak dipungkiri, banyak pengusaha muda yang nyaris bangkrut atau malah sudah kolaps menjadi malas atau ketakutan untuk bangkit lagi. Menurut Mega, memiliki usaha di usia muda tak boleh untuk gaya-gayaan. Yang harus dipikirkan adalah kebermanfaatan usaha itu untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Ada lagi. Konsistensi.

“Sejak dulu, saya ingin kerja tapi punya waktu luang lebih banyak. Lalu, saya lihat banyak ibu-ibu terpaksa meninggalkan anaknya karena bekerja dari pagi sampai sore. Saya ingin mereka yang nggak punya kesempatan menempuh pendidikan tinggi tapi punya keterampilan, juga bisa bekerja. Saya ingin, saya dan mereka bisa hidup bersama keluarga, tapi punya penghasilan,” ujar Mega.  (put/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya