alexametrics

Dinkes Kota Magelang Tetapkan KLB DBD, Satu Pasien Meninggal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang menetapkan kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya terjadi satu kasus pasien DBD meninggal, sedangkan tahun sebelumnya tidak ada. Selain itu, Dinkes juga mewaspadai terhadap nyamuk-nyamuk yang mulai resisten terhadap insektisida.

“KLB itu ketika ada satu kematian, padahal sebelumnya tidak ada kasus kematian itu sudah dinamakan KLB,” ungkap Kepala Dinkes Kota Magelang dr Intan Suryahati, usai memberikan pengarahan kepada 194 kader juru pemantau jentik (jumantik) se-Kota Magelang, di Pendopo Pengabdian, Selasa (28/12).

Sampai saat ini, kasus DBD di Kota Magelang tercatat 23 kasus, dengan satu kasus meninggal.  Disebutkan, penyakit DBD disebabkan virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus. Kedua nyamuk memiliki ciri-ciri khusus. Pada bagian dada nyamuk aedes aegypti, terdapat sepasang garis putih melengkung seperti sabit. Nyamuk ini berkembang biak di dalam rumah. Sedangkan pada dada aedes albopictus, terdapat sepasang garis lurus. Perkembangbiakannya di luar rumah.

Baca juga:  Pengunjung Padusan Turun 70 Persen

“Sekarang ini, nyamuk-nyamuk sudah mulai resisten dengan insektisida. Kalau disemprot dengan obat tidak mati, cuma kliyeng, nanti terbang lagi,” ujarnya.

Hasil uji nyamuk aedes aegypti yang resistensi terhadap insektisida itu dilakukan oleh tim Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Penyakit (B2P2VRP) Salatiga pada tahun ini. Lokasi penangkapan nyamuk di wilayah Jurangombo Selatan dan Kramat Utara.

Dari hasil itu, diketahui tingkat resistensi terhadap insektisida golongan Piretroid telah sampai pada tingkat mutasi genetik. Hal yang perlu diwaspadai ketika nyamuk resisten adalah ketika terjadi KLB, fogging atau pengasapan tidak bisa menurunkan jumlah nyamuk.

Pengendalian vektor DBD paling efektif hanya  dengan langkah pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Berbiaya murah, juga mudah dilakukan oleh setiap orang. Adalah 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas. Kemudian bisa melakukan upaya tambahan dengan memelihara ikan di bak-bak penampungan, dan lainnya. Dihimpun Jawa Pos Radar Semarang , Pemkot Magelang mengalokasikan anggaran untuk penanganan DBD Rp 188,092 juta selama 2022.

Baca juga:  Satlantas Polres Magelang Kota Uji Coba Kopek

Sementara itu, Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz menginginkan Kota Magelang menjadi kota bebas nyamuk. “Kalau dilihat grafiknya, DBD biasanya terjadi di awal-awal tahun, maka kita kumpulkan kader jumantik, supaya mereka lebih semangat lagi,” imbuhnya. (put/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya