alexametrics

Sidotopo, Kawasan Bisnis Komersial yang Prospektif

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sidotopo  digadang sebagai kawasan prospektif pengembangan bisnis di bidang perdagangan dan jasa, juga pendidikan. Pedoman pemanfaatan lahan Sidotopo itu sudah melalui kajian penilaian prinsip tertinggi dan terbaik atau highest value and best use (HBU).

Dilihat dari letak geografis, kawasan ini sangat strategis. Berlokasi di pinggir jalan arteri utama Magelang-Semarang, tepat di pintu masuk sisi Utara Kota Magelang. Sidotopo termasuk wilayah Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, dan bagian wilayah perkotaan (BWP) V. Akses pintu masuk utama dan pintu keluar berhadapan langsung dengan RSJ Prof Dr Soerojo. Kawasan Sidotopo ini dikembangkan dengan tema kawasan “Sehat Kotaku Sejahtera Penduduknya”.

Saat ini pula, di kawasan Sidotopo sedang dibangun gedung Universitas Tidar (Untidar) di atas tanah yang dihibahkan Pemkot Magelang. Di antaranya akan dipakai untuk gedung rektorat—yang akan menjadi landmark kawasan Sidotopo.

Dengan berdirinya kampus berstatus negeri ini dapat menimbulkan multiplier effect di segala bidang. Usaha-usaha ekonomi kerakyatan akan tumbuh subur. Seperti usaha kos-kosan, warung makan, foto copy, usaha jasa laundry,  dan sebagainya. Apalagi, Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mendorong Universitas Tidar membuka Fakultas Kedokteran di kawasan Sidotopo ini.

Kabid Ekonomi dan Prasarana Wilayah (Ekpraswil) Bappeda Kota Magelang Iwan Triteny Setyadi menjelaskan, Bappeda Kota Magelang pada 2021 ini telah menyelesaikan review masterplan kawasan Sidotopo, sebagai salah satu kawasan strategis Kota Magelang, menyesuaikan dengan revisi Perda RTRW dan perkembangan kondisi terkini untuk perencanaan mendatang.

Di sekitar kawasan Sidotopo direncanakan juga akan dibangun menara air PDAM. “Menara air ini untuk memenuhi kebutuhan air minum sebagian besar masyarakat di wilayah Kecamatan Magelang Utara, termasuk kawasan Sidotopo,” ujarnya.

Selain penyediaan air minum, Bappeda dalam masterplan telah merencanakan penataan sarana prasarana kawasan, termasuk jaringan listrik. Rencananya, kabel jaringan listrik di kawasan ini akan ditanam. Kebutuhan energi listrik pun telah dihitung sebesar 10.749.607 Kva pada tahun 2050 (setelah ditambah pengguna Untidar). Begitu pula dengan jaringan telekomunikasi akan memakai jaringan fiber optic.

Masih menurut Iwan, guna mendukung kawasan ini bebas banjir, pihaknya memperhatikan sistem jaringan drainase berwawasan lingkungan atau ekodrainase. Sistem drainase mengikuti pola jaringan jalan dengan aliran mengikuti kontur tanah. Kemudian memaksimalkan peresapan tanah dengan penambahan biopori dan rain garden. Penataan vegatasi juga sudah direncanakan dengan baik untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan hijau.

“Sedangkan untuk memperkuat jasa dan perdagangan, di kawasan ini juga disediakan zona untuk mal, hotel dan sarpras pendukung lainnya, seperti lapak PKL dengan arahan rangka besi knock-down, dan ornamen yang seragam,” ungkapnya. Untuk sarana olahraga, kawasan Sidotopo juga direncanakan dilengkapi dengan sarana joging track dan gowes.

Sementara itu, Kepala Dinas Perizinan Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Magelang Muchamad Abdul Azis menyebut, kawasan Sidotopo juga cocok untuk pasar properti. Sangat mungkin bila ingin membangun gedung sampai 15 lantai. “Dalam analisis peruntukan tata kota ini, kami mendapatkan data informasi rencana kota (IRK) dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemerintah Kota Magelang,” ujarnya.

Berdasarkan hasil kajian, Sidotopo menjadi kawasan komersial. Aset milik Pemkot Magelang itu bisa dioptimalkan untuk pengembangan mal, hotel, atau bahkan mal dan hotel sekaligus.

Menurut Azis, pengembangan mal di atas tapak diperkirakan sampai tujuh lantai. Luas bangunannya sekitar 34.125 meter persegi dan luas saleable area 22.181 meter persegi. Adapun luas fasilitas publik pemkot 3.413 meter persegi.

Sedangkan alternatif pengembangan hotel bintang 4 di atas tapak bisa sampai gedung empat lantai. Luas bangunannya 19.500 meter persegi. “Saleable area hotel difungsikan sebagai kamar, lobi, meeting room dan restoran. Jumlah kamar hotel sebanyak 272 kamar, dan luas fasilitas publik pemkot 1.950 meter persegi,” paparnya.

Alternatif ketiga, adalah mal mix hotel bintang 4. Luas bangunan pengembangan boutique hotel di atas tapak diperkirakan 11 lantai. “Kami menawarkan skema kerja sama build operate transfer (BOT) atau bangun guna serah (HGS),” pungkasnya. (prokompim/kotamgl)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Lainnya

Unwahas dan Radar Semarang Siap Bersinergi

43 Pendonor Darah Terima Penghargaan

Sertifikat Uji Nutrisi, Genjot Daya Saing IKM

Pengelolaan Informasi Publik Belum Maksimal

BUMDes Fokus Kembangkan Wisata dan Kuliner

Populer

Artikel Menarik Lainnya