alexametrics

Irmansyah dan Chandra Dewi Finish Pertama di Bank Jateng Tilik Candi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Magelang — Hari kedua pelaksanaan Borobudur Marathon 2021 Powered by Bank Jateng tak kalah meriah. 182 pelari Bank Jateng Tilik Candi merasakan langsung lintasan yang dipakai para pelari Elite Race di Taman Lumbini Borobudur.

Yang berbeda, pada kategori Elite Race ditetapkan 12 kali  putaran dengan total jarak tempuh 42 kilometer. Sedangkan Bank Jateng Tilik Candi hanya separonya, yakni 21 kilometer atau enam kali putaran.  Namun tantangan terbesar di lintasan loop atau memutar adalah sama, yakni rasa bosan.

Pada kejuaraan ini, pelari asal Pontianak, Kalimantan Barat, Irmansyah berhasil mengamankan podium dan membawa pulang hadiah Rp 10 juta. Pada men’s category itu, ia menuntaskan enam putaran dalam waktu 1 jam 16 menit 10 detik (01:16:10).

Sedangkan pelari tercepat pada women’s category adalah Chandra Dewi. Ia menyentuh garis finish dalam waktu 1 jam 49 menit 55 detik (01:49:55). Dia adalah atlet asal Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Bagi keduanya, lari di sekitar Candi Borobudur sangat berbeda. Apalagi, rute yang dilewati sama persis dengan yang dipakai para pelari elit. Menurut mereka, rute tersebut menantang. Berkelok dan menanjak. Walau diakui keduanya, tak berhasil mencapai personal best (PB) pada lari half marathon ini.

Irmansyah menyebut, keikutsertaannya dalam Borobudur Marathon ini ibarat untuk pemulihan kondisi fisik, pasca terjun di lari maraton juga PON XX Papua lalu. “Di sini saya me-recovery, seperti long run saja,” ujarnya saat jumpa pera di Taman Lumbini Borobudur, Minggu, (28/11/2021).

Karena itu, dia tidak terbebani dengan target kemenangan dan stabil selama berlari. Target kedepan, ia ingin mengukur kemampuannya di kategori elite.

Chandra Dewi mengapresiasi penyelenggaraan ini. Saat memutar, semua arahan dari penyelenggara sangat jelas. Hal itu membuatnya nyaman. “Kita jadi nggak kesasar,” akunya.

Dirinya toh tetap menemui kendala.  Setelah 18 kilometer selalu memimpin di garis depan, kakinya tiba-tiba keram. “Setelah itu saya ngebut,” ungkapnya.

Dia juga ingat persiapan diri sebelum mengikuti Borobudur Marathon cukup panjang. Dia giat berlatih. Dalam sepekan, bisa 3-4 kali.

Keistimewaan lain dari acara ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan istrinya, Siti Atikoh ikut serta dalam lomba. Atikoh mampu menyelesaikan enam putaran penuh. Dia berada di urutan ke-13. Sementara Ganjar, hanya mampu dengan satu kali putaran.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, para pelari hanya boleh melepas masker ketika sudah berlari. Kemudian pelepasan atlet di garis start dilakukan bertahap. Setiap baris hanya tujuh orang dengan interval 10 detik untuk gelombang selanjutnya.

“Hal ini untuk protokol kesehatan (prokes, Red), menjaga jarak,” aku Race Director Borobudur Marathon 2021 Andreas Kansil sesaat sebelum flag off.

Para peserta juga sebelumnya telah di tes usap PCR untuk mendeteksi Covid-19. Selanjutnya, peserta menjalani karantina. Di masa pandemi ini, juga tidak ada pengalungan medali. Para pemenang lah yang mengambil medalinya masing-masing. Hal ini guna menghindari kontak fisik. Selain itu, pihak-pihak yang menyerahkan mock up juga memakai sarung tangan.

Dirut Bank Jateng Supriyatno menyebutkan, pihaknya sangat memerhatikan prokes pada penyelenggaraan Borobudur Marathon di saat pandemi. Tujuannya untuk kebaikan bersama. Dia berharap, tahun depan wabah Covid-19 berakhir, sehingga acara Borobudur Marathon bisa diikuti banyak peserta. Sementara tahun ini dibatasi. (put/bas)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya