alexametrics

Populasi Monyet Ekor Panjang Meledak, Pengelola Gunung Tidar Kewalahan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Magelang Populasi monyet ekor panjang (MEP) di Kebun Raya Gunung Tidar meledak.  Tahun 2020  mencapai 400-450-an ekor. Jumlah ini diperkirakan bertambah setiap tahunnya, sedangkan cadangan makanan  berkurang.

Pemkot Magelang berupaya mencukupi kebutuhan makan primata itu, agar tidak turun ke permukiman warga sekitar untuk mencari makanan.

Kepala UPT Kebun Raya Gunung Tidar Yhan Noercahyo mengatakan populasi MEP sangat banyak. Tingkat kematian MEP lebih kecil dari tingkat kelahirannya.

Pengendalian populasi belum bisa dilakukan. Seperti alternatif memindahkan sebagian jumlah MEP ke tempat lain, di alam terbuka. Ia hanya bisa memberi makan MEP agar tidak menganggu warga maupun pengunjung.

“Seminggu kami beri makan 50 kilogram buah, dan 30 kilogram ketela yang kita sebar di beberapa titik, karena mereka hidup berkoloni,” ucapnya.

Baca juga:  Pernah Kesulitan Mencari, Pasutri Asal Magelang Ini Sediakan Oksigen Gratis

Menurut dia, jumlah makanan itu belum dikatakan melimpah. Kemungkinan masih kurang. Ia membolehkan masyarakat atau pengunjung ikut memberi makan MEP. Namun tidak boleh sembarangan.  “Boleh memberi makan, tapi jangan lepas dari koordinasi dari kita. Jangan sampai (makanan, Red) mengubah kebiasaan mereka (MEP, Red),” jelasnya.

Menurut dia, MEP di Gunung Tidar juga mengonsumsi buah pinus. Namun ada masyarakat dan pengunjung yang memberikan makanan di luar buah itu. Parahnya ada yang memberi camilan, sampai minuman-minuman berasa dan berwarna. “Padahal MEP ini mudah mengingat apa yang pernah dimakan atau diminumnya,” tuturnya.

Inilah yang membuat MEP di Gunung Tidar punya kebiasaan lain. Buah pinus tidak lagi menjadi makanan pokok MEP. “Dia sudah tahu varian makanan lain.”

Baca juga:  Cari Jalan Alternatif, Truk Muatan Susu Kemasan Terguling

Tidak heran, jika MEP di Gunung Tidar ada yang mengambil paksa makanan pengunjung. Atau mengambil makanan dan minuman yang dijual para pedagang. Mengembalikan kebiasaan MEP, kata Yhanur, butuh peran semua pihak. Kuncinya harus kompak. Antara UPT, masyarakat, dan pengunjung.

“Karena kita berupaya agar MEP hanya tahu makan buah dan palawija saja. Bukan makanan-makanan yang lain,” tandasnya. Selain itu, ia mengimbau agar tidak menyakiti hewan tersebut. (put/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya