alexametrics

Model Kemitraan Tanpa Royalti Fee, Slamet Ragil Kini Miliki 143 Cabang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Slamet Riyanto alias Slamet Ragil tidak hanya dikenal sebagai juragan soto dan kupat tahu gimbal. Tapi juga pengusaha yang punya sistem kemitraan berbeda, tanpa menarik royalti fee.

Ingatan Slamet tajam. Ditanya soal kapan kali pertama dia membuka cabang. Jawabnya pada awal Agustus 2007. Mitra pertamanya adalah teman sendiri. Mantan sales juga.

Dia senyum-senyum mengingat masa itu. Ada sedikit rasa pekewuh saat temannya ingin bergabung. Maklum, dia mengaku belum berpengalaman. Masih buta soal pengetahuan bagaimana membangun cabang usaha baru. Apalagi dengan teman sendiri, takut dikira mengambil untung besar.

“Waduh, saya bingung itu. Akhirnya saya putuskan, cukup beli bumbu-bumbu saya saja. Pakai nama saya. Dan saya nggak minta royalti fee,” ujarnya.

Setelah dipikir-pikir, model kemitraan tanpa royalti fee cocok dengan hati nuraninya. “Saya itu nggak tegaan. Iya kalau usahanya jadi, kalau ternyata mereka gagal atau sepi bagaimana? Padahal sudah bayar kemitraan mahal. Bisa jadi saya memberatkan mereka,” ujarnya dengan raut wajah serius. Lalu mengarahkan kedua bola matanya, menatap atas.

Namun ada sedikit perbedaan ketika dia sudah belajar mengelola binis kuliner ke sana sini. Dia berani mematok harga bermitra untuk memakai nama Slamet Ragil. Itupun tidak mahal. Di awal-awal Rp 2 juta, sekarang di bawah Rp 10 juta. Sekali bayar, berlaku seumur hidup.

“Biaya itu untuk pendampingan, dan sebagainya. Selanjutnya hanya cukup beli bumbu-bumbu soto dan kupat tahu gimbalnya saja,” terangnya.

Ia juga membolehkan mitranya menjual produk lain disamping tiga menu utamanya. Yakni soto ayam kampung khas Semarang, kupat tahu Magelang, dan kupat tahu gimbal.  “Saya nggak banyak aturan, karena misi saya adalah bisnis kekeluargaan. Bisnis silaturahmi,” ujarnya dengan mantap.

Berjalan dengan model kemitraan itu, membuatnya merasa nyaman. Pria yang rajin berpuasa Senin dan Kamis itu tidak menakar kesuksesan dengan uang. “Saya nggak profit oriented. Nggak ingin mengeruk keuntungan yang besar, yang penting ilmu saya bermanfaat dan berguna,” imbuh pria yang mengaku tak punya hobi itu.

Sekarang dia sudah punya 143 cabang. Pekan lalu, dia meresmikan cabang Sragen. Tepatnya 17 September.  (put/lis)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya