alexametrics


Anak-Anak Sempat Tidak Mau Meneruskan Usaha ‘Jualan Getuk’

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID – Menjadi kernet mobil angkutan L300 omprengan dilakukan Sugijono. Juga menjadi kernet bus jalur Semarang sampai Magelang  juga dijalaninya sebelum genap berusia 19 tahun.

Kerja keras di masa muda dilakukan Sugijono atau akrab dipanggil Mas Sugi. Pengalaman berharga itu menjadi bekal untuk mengelola usaha.

“Itu merupakan pengalaman berharga bagi saya. Menjadi seorang kernet yang berangkat sore pulang malam. Dulu kalau malam tidak ada bus yang ke Magelang, terpaksa cari tumpangan orang,” ujarnya sambil tertawa menceritakan masa lalunya.

Ia bercerita tujuan pengembangan usaha ini, agar dapat dinikmati oleh anak dan istri. Dulu setelah memiliki satu sampai dua toko, ia sempat berpikir apapun usaha yang dikerjakan kalau tidak bisa meregenerasi ke anak-anak, akan sia-sia. Artinya usaha yang telah dijalankan ini tidak ada hasilnya dan bisa runtuh.

“Apalagi anak-anak sekarang itu, kalau disuruh melanjutkan usaha orang tuanya yang hanya berjualan getuk pasti malu. Akhirnya saya memberikan pengertian. Saya ini hanya membukakan jalan untuk mereka,” jelasnya.

Ia sering memberikan motivasi ke anak-anaknya untuk menjadi seorang pengusaha. Karena jika dipikir baik-baik secara logika gaji pengusaha dengan karyawan itu beda. “Menurut Anda, gaji 10 juta besar apa tidak. Tapi apakah ada lulusan sarjana digaji Rp 10 juta, paling banyak hanya Rp 4 juta,” ucapnya bertanya ke wartawan koran ini.

Ia mengaku awalnya anak-anak itu tidak mau melanjutkan usaha. Namun dengan motivasi dan pengertian yang terus diberikan, mereka mau melanjutkan usaha. “Seorang pengusaha itu bisa menjadi miliarder. Seorang pengusaha itu menjadi pencipta lapangan kerja,” ujarnya.

Anak Mas Sugi ada yang lulusan sarjana farmasi apoteker, sarjana teknik informasi, dan sarjana teknik pangan. Ia mengaku senang ketiga anaknya mau melanjutkan usahanya. “Anak saya itu lulus cumlaude semua. Ada yang menawari kerja di salah satu bank, tapi saya tolak,” ucapnya.

Saat ini ada tujuh outlet yang dibuka. Tiga pusat oleh-oleh, lima houseware, kafe satu, dan running text. Semua usahnya dipegang oleh anak dan istri. “Ini memang niat awal saya memberikan regenerasi ke anak-anak dan istri. Saat ini saya hanya koordinator. Tidak memegang toko manapun. Semua sudah menjadi tanggung jawab masing-masing. Kalau ada kesulitan saya baru membantu,” ujarnya.

Kata Mas Sugi saat menawarkan anaknya untuk melanjutkan usaha toko oleh-oleh sempat ditolak. Anaknya ingin membuka usaha elektronik. Namun ia memaksa untuk tetap melanjutkan usaha toko oleh-oleh itu.

“Saya menjelaskan ke anak untuk melanjutkan usaha ini dulu. Kalau enggak berhasil, nanti boleh membuka usaha elektronik,” ceritanya.

Mas Sugi juga sempat bertanya ke anak, target membuka usaha itu apa. Anaknya menjawab ingin mencari untung. “Ya kalau mencari untung, jualan getuk ini,” tegasnya. (rfk/lis)

 

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya