alexametrics

Program Jemput Sakit Antar Sehat Jangan Seperti Angkot

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Magelang – DPRD Kota Magelang menyoroti program unggulan Pemkot Magelang, Jemput Sakit Antar Sehat (JSAS) melalui PSC 119. Menurut Dewan, harus diperbaiki. Jangan terkesan seperti angkot.

“Itu (program, Red) konkretnya masih nggak jelas. Itu menjemput, hanya jemput saja, kayak transportasi angkot, dan ambulans itu,” sentil Ketua DPRD Kota Magelang Budi Prayitno, beberapa hari lalu.

Padahal ia memuji tujuan program tersebut sudah baik. Namun implementasi di lapangan masih kurang. Perlu penyempurnaan. “Yang diharapkan tidak hanya mengantar. Tapi pasien itu  punya BPJS (JKN-KIS, Red) nggak? Bisa dipakai nggak ? Itu juga harus diurusi,” ucapnya.

Menurut dia, tim PSC 119 jangan hanya menyerahkan pasien ketika sudah sampai di fasilitas pelayanan kesehatan. Seperti  di rumah sakit, puskesmas, maupun klinik. Ia mengetahui ini, dari aduan masyarakat.

Baca juga:  1.313 Botol Miras Digilas

Dikonfirmasi, Kasi Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Magelang Mimin Triyanti menyebutkan, sebetulnya pelayanan JSAS sudah terintegrasi dengan program universal health coverage (UHC), Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Perluasan cakupan kepesertaan JKN-KIS terus digenjot. Namun diakui, pada Juli lalu terjadi peningkatan permintaan ambulans PSC 119. Sehingga tim PSC tidak mampu mengawal kebutuhan pasien soal jaminan kesehatan.

“Terutama di bulan Juli, ada lonjakan pasien. Sehari bisa ada 28-30 yang harus kami jemput dan antar. Istilahnya, kita harus kejar tayang,”  Mimin membela.

Mimin berterus terang, PSC tidak bisa memberikan pelayanan maksimal, jika harus sampai menguruskan JKN-KIS, waktunya habis. Namun demikian, tetap memberi masukan kepada keluarga pasien. Jika JKN-KIS tidak aktif, diminta segera mengurus ke Dinkes. Bila memang dari warga kurang mampu, akan dialihkan menjadi peserta penerima bantuan iuran (PBI), yang iurannya dibayar pemkot.

Baca juga:  Jelang Ramadan, Pengunjung Gunung Tidar Berjubel

“JSAS kita nggak semata-mata menjemput dan mengantar. Kita ada eduaksi terkait jaminan kesehatan. Dan, itu jadi satu bagian yang tidak bisa dipisahkan,” tandasnya.

Dia menjelaskan, tiap pasien JSAS yang dilayani akan dicek kepesertaan JKN-KIS-nya. Ia menggunakan aplikasi khusus yang bisa membaca status kepesertaan itu.

“Karena untuk pengisian rekam medik, kita butuh NIK pasien untuk tahu sudah punya JKN-KIS belum. Aktif apa tidak, kelas berapa, semua akan terlihat di sistem,” jabarnya.  (put/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya