alexametrics

Rancang Pasar Seni di Pasar Rejowinangun

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz ingin kolaborasikan pasar tradisional dengan kegiatan seni dan budaya. Konsep ini akan dikembangkan di Pasar Rejowinangun. Target dia, terealisasi sebelum akhir tahun. Beberapa titik disurvei. “Kota Magelang harus punya ikon baru, supaya mereka (wisatawan, Red) datang ke sini,” kata dokter Aziz.

Menurutnya, Kota Magelang punya potensi besar terhadap perkembangan seni dan budaya. Senimannya lintas generasi. Mulai dari anak muda, sampai yang sudah senior. Ini saatnya pemkot memfasilitasi. Karena beberapa waktu lalu, dia melihat sendiri maha karya perupa muda Kota Magelang dalam pameran seni Nano Nano Nana Nina, di Museum BPK RI. “Karyanya luar biasa. Mereka butuh tempat, wadah, dan bagaimana kita memberikan ruang untuk anak-anak muda berkreasi,” ujarnya.

Baca juga:  Babak 16 Besar Makin Ketat

Menurutnya, Pasar Rejowinangun menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat paling komplit. Jika ditambah produk kerajinan dan kesenian, segmen pengunjung makin beragam. “Gambarannya, orang yang datang ke sini dari semua tingkat pendidikan warga, dan status sosial warga,” ucapnya. Di pasar ini, produk kesenian akan dipamerkan dan dijual di selter kuliner. Lantai tiga, juga dipersiapkan untuk pusat kesenian.

Muhamad Nafi, salah satu koordinator pengusul pasar seni berharap keinginannya terkabul. Selama ini, Kota Magelang belum mempunyai ruang untuk ekonomi kreatif, khususnya seni budaya. “Selama ini kita terpencar-pencar. Nggak masuk UMKM binaan Disperindag, bukan dianggap usaha,” keluhnya.

Kalau diberi ruang, para pecinta seni budaya dengan senang hati mengisi. Benda-benda antik misalnya, bisa dipajang untuk pelengkap koleksi. Soal promosi, kata Nafi, tidak perlu ragu. “Teman-teman barang antik, seniman jalanan mural punya pangsa pasar sendiri. Pemusik indie juga punya pasar sendiri. Dan mereka ini berjejering nasional,” tegasnya.

Baca juga:  Kampung Pancasila Cegah Intoleransi

Pasar Rejowinangun dipandang representatif. “Kita ingin pasar ini lebih ramai, dan menjadi tempat interaksi baru,” ujarnya berdoa bisa seramai Pasar Santa (Jakarta), Pasar Triwindu (Solo), dan Pasar Sukowati (Bali).

Kabid Pasar Disperindag Kota Magelang Harry Soeprijadi setuju jika shelter kuliner menjadi ruang pamer. Ia yakin, kulineran dan pasar akan semakin ramai. Karena saat pandemi, pasar sedikit lebih sepi. (put/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya