alexametrics

Jelang Lebaran, Waspadai Daging Oplosan Lur

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) meningkatkan kewaspadaan atas potensi peredaran pangan asal hewan jelang Idul Fitri 1442 Hijriah. Kabid Peternakan dan Perikanan Disperpa Kota Magelang Hadiono menerjunkan petugas pengawas di lapangan.

Sejak awal Ramadan sampai sekarang, belum ada temuan. Ia pun tidak kehilangan akal. Akan meningkatkan pengawasan di hari-hari mendekati Lebaran. “Kita nggak boleh lena,” kata Hadiono.

Ia mengerucutkan pada lima kegiatan pengawasan daging. Yakni, daging ilegal, daging gelonggongan, daging oplosan, daging berbahan pengawet. Kemudian  daging yang tidak memenuhi syarat kesehatan. “Kelima ini jadi perhatian kami dalam operasi penertiban penjualan daging, dan hasil ternak dari luar Kota Magelang,” tandasnya.

Daging ilegal memang jarang ditemukan di Kota Magelang. Bahkan hampir tidak pernah. Tapi patut diwaspadai. Daging-daging ilegal ini dipasarkan tanpa surat. Bisanya untuk jenis daging babi, daging celeng (babi hutan), dan daging anjing. “Daging celeng ini hampir mirip dengan daging sapi. Seratnya hampir sama, sehingga agak sulit dibedakan secara kasat mata. Tapi kalau diuji laboratorium, pasti ketahuan,” ujarnya.

Lalu daging gelonggongan. Berasal dari sapi yang sebelum disembelih digelontor minum sampai beratnya naik drastis. Ciri-cirinya, warna daging merah pucat, konsistensi daging lembek, permukaan daging basah, dan biasanya penjual tidak menggantung daging tersebut. “Karena kalau digantung, air akan banyak yang menetes dari daging,” bebernya.

Lanjut dia, ada kemungkinan peredaran daging oplosan. Daging unggul,  dicampur dengan daging-daging berkualitas buruk. Entah itu daging gelonggongan, atau daging celeng. “Ada juga daging yang diberi bahan pengawet, seperti formalin. Ini sangat berbahaya, dan dapat berpengaruh pada kualitas daging itu sendiri,” tandasnya.

Terakhir, pemantauan daging ayam mati kemarin (tiren). Menurutnya, daging ini tidak layak konsumsi. Ia imbau masyarakat teliti sebelum membeli. Perlu mengenali ciri-ciri daging ayam sehat. Supaya tak salah pilih. Di antaranya, kulit berwarna putih bersih, mengkilat, tidak memar, dan tidak ada bercak-bercak merah, atau biru di bawah kulit. Baunya spesifik daging ayam. Pembuluh darah di leher dan sayap kosong, atau tidak ada sisa-sisa darah. Selain itu, tidak dijumpai bulu jarum ayam pada karkas.

“Ayam tiren biasanya dilumuri kunyit untuk menyamarkan tampilannya. Harganya murah, biasanya ada biru memar, dan berbau busuk,” ujarnya.

Penjual daging juga diminta untuk menjual daging ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal). Membeli daging sapi dari rumah potong hewan (RPH). Atau untuk daging ayam di tempat pemotongan unggas yang biasanya ada di kelurahan.

Di sisi lain, ia memantau peningkatan aktivitas RPH. Biasanya hanya memotong 9-10 ekor sapi dalam sehari, sekarang menjadi 16 ekor per hari. Ia memprediksi terjadi lonjakan permintaan mendekati Lebaran. “Harga juga masih terpantau stabil Rp 120 per kilogram. Kemungkinan akan naik Rp 130-140 ribu di saat H-1 Lebaran, karena faktor tingginya permintaan.” (put/lis)

 

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer