alexametrics

Golong Gilig Borobudur, Energi dari Tujuh Sumber Air

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Kesakralan tergambar jelas dalam rangkaian acara Golong Gilig Borobudur. Air yang diambil dari Sungai Sileng di sekitar kawasan wisata super prioritas ini disiramkan ke tanah. Mengelilingi candi. Sampai membentuk gelang.

Sisa air itu kembali diarak sampai menuju area Margo Utomo, TWC Borobudur. Di sini lah puncak acara berlangsung. Disebut puja bakti.

Tampak rombongan berpakaian serba putih. Melambangkan niat yang suci, dan semangat. Beberapa orang diantaranya memakai kostum prajurit kerajaan masa lalu. Membawa sebuah gamelan gong. Di depan mahakarya para leluhur itu, doa-doa dipanjatkan dalam sebuah mantra. Berbahasa Jawa kuno.

Ketua Panitia Albertus Punomo menyebutkan kegiatan ini diikuti masyarakat saujana Borobudur. Terdiri dari pelaku wisata, seniman, dan warga sekitar. “Elemen ini menyatu untuk membangun Borobudur,” kata pria yang akrab disapa Aan Sabtu (3/4/2021).

Orang-orang inilah yang mengambil langsung air di tujuh sumber mata air, sepanjang Sungai Sileng. Tujuh titik ini melambangkan energi kehidupan. Udara, api, tanah, kayu, dan sebagainya. Selain itu, kata Aan, Sileng memiliki arti siro elingo. “Kita harus ingat Tuhan dan alam semesta ini,” ucapnya. Sebelumnya, Golong Gilig diwarnai aksi sayembara membuat desain kaus khas Borobudur, Kabupaten Magelang.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah Sinoeng Nugroho Rochmadi mengakui bahwa acara ini sebagai perwujudan menjaga marwah kepariwisataan. Menunjukkan adanya acara dengan penerapan adaptasi kebiasaan baru. “Sehingga orang-orang masih tahu, daya tarik seperti ini masih ada,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan budaya sanggat diperlukan untuk menggeliatkan pariwisata. Karena terbukti, tanpa ada atraksi wisata, sebuah destinasi terlihat kurang hidup. Sepi pengunjung. “Banyak daya tarik yang nggak sustain, karena kurang event,” akunya.

Di Jawa Tengah, sekitar 50 daya tarik wisata belum buka, karena kesulitan biaya operasional. Jumlah itu sekitar 7 persen dari 690 tempat wisata yang ada.

Maka perlu sebuah kalender acara. Rangkaian kegiatannya yang beruntun, dengan jarak pelaksanaan tidak terlalu lama. “Kalau bisa, ada keberlanjutannya, acara itu nggak terputus. Misalnya acara ini Juli, acara berikutnya Oktober, ini terlalu jauh,” ujarnya. (put/ton)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Syekh Jumadil Kubro Generasi Pertama Walisongo

RADARSEMARANG.ID - Makam Syekh Maulana Jumadil Kubro ditemukan pada zaman penjajahan Belanda. Makamnya berlokasi di Jalan Arteri Yos Sudarso...

Lainnya

Menarik

Populer

Taman Pierre Tendean Usung Konsep Smart Park

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Taman Pierre Tendean bakal menjadi taman percontohan di Kota Semarang. Mengusung konsep Smart Park dengan sentuhan...