Berhasil Kendalikan Kasus Korona, Magelang Lepas dari Zona Merah

177
Wali Kota Magelang mengikuti video conference pengarahan dan dialog Presiden dengan Gugus Tugas Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah, di Command Center Kota Magelang, Selasa (30/6/2020). (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Magelang – Kota Magelang saat ini berhasil mengendalikan kasus Covid-19 setelah tidak ada penambahan kasus pasien yang terkonfirmasi positif sejak 13 Juni 2020.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Magelang dr Majid Rohmawanto yang juga menjabat Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang menjelaskan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 26 Juni 2020, angka Rt (Reproduksi efektif) Kota Magelang adalah 0,14. Jika angka Rt di bawah satu, maka peluang penyakit itu menular ke orang lainnya lebih rendah. Ini artinya, kasus Covid-19 di Kota Magelang terkendali.

“Angka Rt Kota Magelang 0,14. Dengan angka ini, kita peringkat 17 daerah di Jawa Tengah yang memiliki angka Rt kurang dari 1,” jelas Majid, ditemui usai menghadiri video conference pengarahan dan dialog Presiden dengan Gugus Tugas Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah, di Command Center Kota Magelang, Selasa (30/6/2020)

Kendati demikian, Kota Magelang masih masuk kategori daerah di Jawa Tengah  dengan peta atau zonasi risiko penularan kategori sedang (oranye).

Zonasi risiko dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan. Meliputi indikator epidemiologi, indikator surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan masyarakat.

“Berdasarkan hitungan indikator-indikator tersebut, Kota Magelang memiliki skor sebesar 1,93. Artinya, potensi penularan virus corona di Kota Magelang itu masih cukup tinggi,” ucapnya.

Potensi penularan itu disebabkan beberapa faktor, diantaranya laju insidensi (perbandingan suatu kejadian dengan jumlah penduduk) kasus positif per 100.000 penduduk akan selalu tinggi, karena jumlah penduduk Kota Magelang kurang dari 150.000 jiwa.”Jadi mesti berat, begitu muncul 1 kasus, maka laju insidensi kita langsung tinggi,” akunya.

Faktor lainnya adalah banyaknya para pendatang dari luar daerah yang berisiko menyumbang angka kesakitan dan kurangnya kedisiplinan masyarakat di area publik dalam mematuhi protokol kesehatan.

“Selain itu, masih ada masyarakat yang belum menerima pasien dengan karantina mandiri, sementara pasien sudah bosan di rumah sakit,” ungkapnya.

Untuk itu, hal yang perlu dilakukan guna menekan potensi penularan adalah kerjasama semua pihak dalam penegakan protokol kesehatan di semua lini, serta penguatan di masyarakat sehingga bisa menerima pasien dengan tanpa gejala. (put/bas)





Tinggalkan Balasan