alexametrics

Dihuni Ratusan Jenis Flora, Gunung Tidar Layak jadi Kebun Raya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kawasan Gunung Tidar ditumbuhi sekitar 110 flora yang bisa jadikan sebagai penelitian. Selain itu, hasil inventarisasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditemukan 52 jenis tumbuhan berpotensi sebagai tanaman pangan, hias, obat maupun bahan baku industri. Sementara dari 10 jenis tumbuhan telah dimanfaatkan masyarakat lokal.

Kabid Ekonomi dan Prasarana Wilayah (Ekopraswil) Badan Perencana dan Pembangunan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Magelang Iwan Triteny Setyadi menjelaskan, di kawasan ini, vegetasi nonalami yang ditanam tahun 1960-an seperti pinus, khaya, kecrutan dan mahoni masih banyak yang kokoh berdiri. Dari pantauan di lapangan, diketahui pula ada 32 jenis tumbuhan yang tumbuh secara alami.

Baca juga:  Sesuaikan Standar, RPH Canguk dilengkapi ERS

Inventarisasi ini dilakukan guna mendukung kajian kelayakan Gunung Tidar sebagai kebun raya. Kajian dan survei lapangan sudah dilaksanakan sejak tahun 2016. Sementara status baru diberlakukan sejak awal tahun 2020.

“Selain punya koleksi flora, Gunung Tidar juga memiliki fauna monyet ekor panjang,” katanya.

Saat ini, pihaknya terus memperkuat status Kebun Raya Gunung Tidar. Kawasan ini juga telah dikelola di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, sebelumnya Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa). “Kebun raya juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH) plus plus. Yang membedakan adalah operasionalnya, di mana nanti setiap tanaman terdokumentasi, ada semacam “KTP” untuk setiap pohon, diarsipkan dan dirawat data base-nya,” jelasnya.

Baca juga:  Diserbu Pembeli, Stok Minyak Goreng Kosong

Menurut Iwan, kebun raya harus memiliki lima fungsi. Sebagai konservasi, penelitian, edukasi, pendidikan wisata dan jasa lingkungan. “Jadi setelah Gunung Tidar menjadi kebun raya, fungsinya lebih optimal,” ujarnya.

Ia harap masyarakat sekitar ikut membantu pemerintah dalam menjadikan kawasan wisata ini nyaman untuk dikunjungi. Salah satunya dengan mengubah kebiasaan menjemur pakaian di jalan akses masuk lokasi wisata. Ia yakin, jika kawasan ini ramai maka dampak ekonomi bisa dirasakan masyarakat sekitar. (put/ton)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya