Jalani Ritual Khusus sebelum Membuat Barongsai

Sandy Ironi, Pembuat dan Penjaga Pakem Barongsai di Magelang

361
SELESAIKAN BARONGSAI: Koh Sandy, pembuat barongsai asal Kota Magelang terus berkarya meski satu kakinya harus diamputasi.(AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SELESAIKAN BARONGSAI: Koh Sandy, pembuat barongsai asal Kota Magelang terus berkarya meski satu kakinya harus diamputasi.(AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Jelang imlek, pemesanan barongsai meningkat. Di Kota Magelang, salah satu pembuat sekaligus penjaga pakem barongsai yang telah turun-temurun selama puluhan tahun adalah Sandy Ironi, 63. Meski kini hanya memiliki satu kaki, Koh Sandy tetap eksis membuat barongsai dan liong.

AGUS HADIANTO, Magelang, RADARSEMARANG.ID

WAJAHNYA cukup ramah menyambut Jawa Pos Radar Semarang saat menyambangi rumahnya di Jalan Daha Nomor 36, Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Dengan gesit, Koh Sandy, memasukkan motor yang didesain untuk disabilitas, lengkap beserta gerobagnya masuk menuju pintu gerbang rumahnya. Sekitar 5 menit, Koh Sandy berusaha beranjak turun dari motornya seraya mendekatkan kursi roda di dekat motornya.

“Meski kaki saya satu, saya bisa sendiri ke kursi roda atau ke mana-mana. Toh kekurangan ini bukan halangan untuk beraktivitas normal,” ujarnya sambil menolak halus uluran pertolongan koran ini.

Benar saja, dengan gesit, Koh Sandy berpindah ke kursi roda dan mengajak duduk di teras rumah sambil lesehan. Ia pun langsung duduk lesehan, tanpa kesulitan. Kaki satunya, kata Koh Sandy, terpaksa dipotong 10 tahun silam karena adanya penyumbatan pembuluh darah di kaki. Apakah satu kaki mengganggunya membuat barongsai? Koh Sandy hanya tertawa.

“Justru karena mendalami membuat barongsai, saya semakin bersemangat membuat barongsai. Tidak perlu nglokro dan hanya duduk diam karena punya kaki satu,” ucapnya sambil tertawa memperlihatkan dua giginya yang masih tertinggal.

Koh Sandy menyebutkan, sebetulnya hidup ini sangat mudah sekali melalui falsafah barongsai ini. Kalau orang sudah mengerti tentang falsafah barongsai, kata Koh Sandy, hidup itu dalam bentuk apapun mudah dan bisa diatasi, walaupun nanti zaman sekian ratus atau sekian puluh tahun ke depan jadi elektronikpun nanti kita bisa tetap mengikuti. “Itu ada kuncinya,” ucap suami dari Buyuko ini seraya tersenyum.

Koh Sandy bercerita, dirinya mulai membuat barongsai sejak umur 10 tahun, tepatnya pada 1964. Kakeknya, kata Koh Sandy, bernama Cho Dowan seorang seniman, dalang wayang potehi yang sangat terkenal di Semarang pada 1950-an.
Koh Sandy mengaku, dirinya kelahiran 1956, dan mulai dimomong sama kakeknya. Ia diajari membuat barongsai saat umur 6 tahun. Bahkan penerus pembuat barongsai adalah dirinya, bukan ayahnya.

“Jadi, saya cucu pertama dan bapak anak pertama. Pada usia 5 tahun digendong-gendong sambil mbah mengerjakan barongsai. Mbah bilang, ini lho kamu mengerjakan buat ini mulai diajarkan itu oleh mbah saya. Nah ini, saya teruskan, jadi umur segitu saya teruskan sampai sekarang, tanpa ada bosan,” cerita ayah empat anak ini.

Koh Sandy mengungkapkan, sejak dulu hingga kini, rumah yang ditempatinya merupakan peninggalan kakeknya, sekaligus menjadi tempat membuat barongsai. Namun, rumah yang sekarang, kata Koh Sandy, sudah mengalami banyak perubahan.

Setelah ada pembaharuan ekonomi dan sebagainya, menurut Koh Sandy, dibuat sebuah hall untuk pertemuan para seniman barongsai maupun seniman-seniman untuk tukar kaweruh di sini.

“Jadi, kami kesenian dan pengetahuannya bukan hanya barongsai, tapi paduan dari adat, budaya dan seni. Namun yang diutamakan di sini saat jelang waktu imlek seperti sekarang ya barongsai dan naga,” ucapnya.

Dijelaskan, barongsai dan liong yang dibuatnya mempunyai kekhasan sendiri, yaitu pakem. Pakem dalam artian, bentuk singa betul-betul hidup. Perbandingan antara mata, miringnya berapa, alisnya berapa, keningnya berapa, hidung berapa, bukanya mulut seberapa, menurut Koh Sandy, adalah arti dari pakem. Kekhaasan pakem inilah dipertahankannya sejak zaman kakeknya hingga sekarang.

Selain kekhasan pakem, Koh Sandy menyebutkan, keamanan untuk para pemain barongsailah yang diutamakan. Para pemain yang memakai barongsai buatannya, menurut Koh Sandy, tidak terhalang dengan sudut pandang dari dalam ke depan.

“Nah kalau yang lain, mungkin agak grepes ke sini, sudut pandangnya sulit. Apalagi kalau untuk main akrobatik di atas tong itu menyulitkan. Tapi kalau yang dari kami, karena kami pakem tadi sudah merancang dari sudut ini seberapa, nanti kalau dipakai main gerak itu seberapa, jadi pemain itu aman betul-betul tidak menimbulkan kecelakaan yang fatal,” imbuhnya.

Koh Sandy memaparkan, dalam membuat barongsai berbobot 3-5 kg, dirinya membutuhkan waktu pembuatan sekitar satu bulan, tergantung pada bentuk dan halusnya bahan. Bentuk dan halusnya bahan, kata Koh Sandy, benar-benar diseleksi dan dipilih agar barongsai tetap terlihat meski cuaca gelap. Untuk membuat barongsai, dirinya lebih dahulu mengerjakan pembuatan kerangka barongsai yang memakan waktu dua minggu. “Jadi meski gelap, dalam ruangan sekalipun, barongsai tetap terlihat. Minimal betul-betul relief dari gerakan-gerakan dari kain yang kena goyangan-goyangan itu tampak hidup,” urainya.

Ia menyebut, pemesan barongsai buatannya rata-rata dari luar daerah yang menginginkan model pakem, antara lain Semarang, Tegal, Pekalongan, Bogor, dan Jakarta. Koh Sandy menuturkan, barongsai buatannya rata-rata kerangkanya terbuat dari bambu dan terkadang dari rotan. Kerangka dari rotan, menurutnya, lebih awet, lebih bagus, tidak gampang putus, lentur dan ringan. Kerangka rotan, kata Koh Sandy, kemudian dianyam dengan tali-tali, kemudian dilem, dan ditunggu sampai kering. Setelah itu ditempeli kertas tiga lapis, dari satu per satu.

“Jadi tidak bisa sekali tiga lapis, tapi perlu lapis pertama ditunggu dulu sampai kering, lalu setelah sampai kering nanti lapis kedua, lapis ketiga dan seterusnya seperti itu. Setelah lapis ketiga finishing karena background-nya pakai putih semua, dasar memakai putih. Atau kalau memakai kertas kilap langsung ditempel kertas kilap, ini semacam kayak kertas hologram. Nah ini ditempel di sini, supaya kalau ini kelihatan malam hari kena cahaya mantul. Kalau yang cat biasa tidak bisa,” sebutnya.

Koh Sandy mengaku, dirinya tidak menjual barongsai secara umum melainkan membuat untuk tim kesenian. Tim kesenian, kata Koh Sandy, memintanya membuat barongsai yang rusak terlebih menjelang hari raya imlek. Saat ini pun dirinya sedang menyelesaikan sekitar 20 barongsai sebelum perayaan imlek. “Saya sebenarnya nggak pernah jual, cuma ini untuk keperluan tim, untuk keperluan seni. Jadi, tim itu minta tolong kepada kami untuk membuatkan kami buatkan, tapi kalau dihitung dari harga jual pasaran itu Rp 3 juta sampai Rp 15 juta. Ini tergantung mutu dengan bahan-bahannya,” urainya.

Dia mengungkapkan, selain kekhasan barongsai buatannya yang pakem, dirinya juga sebelum membuat barongsai melakukan ritual. Ritual tersebut, di antaranya melakukan sembahyang kepada langit, bumi, dan alam sekitar sesuai lima unsur. Selanjutnya, kata Koh Sandy, juga menerapkan laku vegetarian untuk membersihkan diri sebulan sebelum membuat barongsai.

Dikatakan, dirinya tidak menuntut empat anaknya untuk meneruskan pembuatan barongsai agar terus eksis. Bagi Koh Sandy, seni membuat barongsai sudah dibagikannya kepada para pegiat seni barongsai dan kelak akan diteruskannya. “Saya tidak menuntut untuk anak bisa meneruskan, Tetapi memang saya sudah mengajarkan mereka membuat barongsai, membuat seperti apa, tekniknya seperti apa,” tutupnya (dilengkapi galang rally ramadhan/santio naufal/aro)

Tinggalkan Balasan