alexametrics

Penderita Skizofrenia Harus Diobati Medis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG – Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Magelang meminta masyarakat tidak menganggap sepele gangguan kejiwaan pada seseorang. Dalam kondisi parah, siapa saja dapat mengalami skizofrenia atau gangguan jiwa berat.

Ketua KPSI Magelang Vida Nastiti menyebutkan, skizofrenia dapat mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan berperilaku seseorang. Penderita kadang berhalusinasi, juga delusi, sulit mengontrol emosi hingga perilaku aneh lain, termasuk keinginan untuk bunuh diri. “Kognitif mereka menurun. Mereka sulit membedakan mana khayalan dan mana hal nyata,” jelas Vida, Kamis (16/1).

Halusinasi yang dialami penderita skizofrenia bisa berupa suara maupun visual. “Mereka mendengar bisikan-bisikan, atau suara-suara keras yang menyakiti hati mereka. Kemudian bisa juga halusinasi visual, misalnya melihat seorang menjadi wujud merah, bertanduk yang mengancam jiwanya,” jelasnya.

Baca juga:  Polres Magelang Kota Bagikan Zakat Fitrah Lebih Awal

Penderita sering menyendiri, merasa tidak percaya diri dan ketakutan. Penyebab pasti skizofrenia, juga sulit dideteksi. Menurut Vida ada banyak faktor pencetusnya. Mulai depresi yang berkepanjangan, psikososial, dan lain sebagainya. “Faktor genetis itu hanya 0,5 persen. Tapi kalau hormon dopamine berlebih, maka akan berpengaruh pada perilakunya,” imbuhnya.

Pada penderita skizofrenia yang sedang berhalusinasi, sebaiknya anggota keluarga atau caregiver membantu mengalihkan halusinasi dengan cara mengajak berkomunikasi. “Penderita skizofrenia juga harus minum obat untuk membantu menstabilkan otak,” tuturnya.

Ia juga menyoroti stigma masyarakat terhadap orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) disebabkan hal gaib. Seperti kena santet, pelet dan sebagainya. Inilah yang menurunkan kesadaran masyarakat memeriksakan anggota keluarganya jika mengalami gangguan kejiwaan kepada petugas profesional. “Mereka malah dibawa yang katanya “orang pintar” atau paranormal. Dan keluarga menolak saat akan kami bawa ke rumah sakit jiwa (RSJ) untuk mendapatkan penanganan,” sebutnya.

Baca juga:  Pemkot Magelang dan Pemprov Jateng Bangun 21 Rumah Penghuni Rusun

Alhasil kondisi penderita semakin parah. Kemudian keluarga kebingungan dan tidak tahu cara merawat ODGJ.

Sejauh ini, temuan ODGJ termuda pada usia 15 tahun. Namun rata-rata menyerang d iusia produktif, muda-dewasa. Masih menurut Vida, setidaknya KPSI Magelang telah menangani 68 kasus pasung dan kegawatdaruratan psikiatri pada tahun 2019. Karena itu, Vida berharap masyarakat ikut berempati terhadap orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Dengan tidak mengejek, mengucilkan atau pun melukai. (mg1/mg2/put/ton).

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya