Sssttt….Ternyata, Raja-Ratu Sejagad Pernah Ngruwat di Gunung Tidar Magelang

13616
PERNAH RUWATAN : Gunung Tidar ini pernah jadi tempat ruwat Raja-Ratu Keraton Agung Sejagad pada Mei 2019 lalu (Puput Puspitasari/radarsemarang.id)

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG  – Kasus yang tengah viral di Kabupaten Purworejo, yakni kemunculan Raja-Ratu Keraton Agung Sejagad, ternyata pernah melakukan ruwatan di Puncak Gunung Tidar Kota Magelang. Ruwatan ini dipimpin langsung oleh Raja’Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso bersama ratusan pengikutnya pada Mei 2019 lalu.

Salah satu petugas jaga di Gunung Tidar, Heri Setyawan, Rabu (15/1/2019) saat ditemui mengaku bahwa dirinya langsung teringat terhadap rombongan ruwat yang dipimpin oleh Romo Toto, saat melihat berita Keraton Agung Sejagad di televisi. Kala itu. Kata Heri, dirinya ingat bahwa Romo Toto pernah melakukan Ruwat Mataram Bumi Mandala di Gunung Tidar, Kota Magelang dan dilangsungkan malam hari hingga dini hari.

Heri mengingat-ingat, saat itu dalam ruwatan tersebut, Romo Toto bersama seorang perempuan yang diyakini Fanni Aminadia, memakai pakaian kebesaran. Sedangkan para pengikutnya yang berjumlah ratusan, kata Heri, terdiri perempuan dan laki-laki.

“Mereka ada yang memakai pakaian ala prajurit, ada juga yang memakai jubah warna putih. Sedangkan yang perempuan ada yang memakai prajurit, namun ada juga yang memakai kebaya,” ucapnya.

Heri mengingat bahwa sebelum melangsungkan ruwatan, rombongan tersebut dari bawah hingga naik puncak Gunung Tidar melakukan arak-arakan dan diiringi musik drum band. Warga sekitar Gunung Tidar yang mendengar keramaian tersebut, kata Heri, sempat berdatangan untuk melihatnya.

“Saya kaget lihat televisi ada berita raja itu. ‘Lho itu kan yang dulu naik, Romo Toto’. Pakaian ya mirip yang di TV itu. Saya terus lihat HP, coba lihat foto-foto ternyata sudah kehapus,” katanya.

Heri menceritakan, dirinya sempat melihat rombongan tersebut memotong puluhan ekor ayam. Kemudian, kata Heri, darah dari ayam yang potong dikubur di sekeliling Tugu Sa yang berada di puncak Gunung Tidar.

“Di atas motong ayam. Terus darahnya dikubur sekeliling tugu. Kemudian mengadakan doa bersama dan ada rebutan tumpengan,” tuturnya.

Heri mengaku, kala itu dirinya sempat merasa janggal sebab para pengikutnya datang dari mana-mana. Bahkan kata Heri, dirinya pun sempat mengabadikan momen itu.

“Cuman janggal saja, keraton kok pengikutnya datang dari mana-mana. Setelah bubaran itu, saya sempat membersihkan dapat seekor ayam, terus saya kasihkan tetangga. Saya cari foti-fotonya, ternyata sudah kehapus,” ujarnya.

Sementara, juru kunci Gunung Tidar, Sutijah mengaku, saat itu dirinya hanya mendengar ada ramai-ramai di sekitar lapangan puncak Gunung Tidar. Sutijah menuturkan, dirinya, tidak tahu yang mengadakan ruwatan dari mana.

“Malam itu, kami mendengar ada ramai-ramai, tapi tidak tahu siapa yang mengadakan,” akunya. (had/ap)

Tinggalkan Balasan