Radikalisme Gencar di Medsos

201
WASPADA MEDSOS : Eks napi teorisme menyebutkan pola perekrutan dan pembaiatan paham radikalisme terorisme saat ini gencar melalui media sosial. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
WASPADA MEDSOS : Eks napi teorisme menyebutkan pola perekrutan dan pembaiatan paham radikalisme terorisme saat ini gencar melalui media sosial. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG – Penyebaran paham radikal dalam upaya terorisme di Indonesia, kini memakai pola baru. Yakni memanfaatkan sarana media sosial. Para pengguna media sosial bahkan tidak sadar mulai terpapar ideologi dengan memanfaatkan simpati dan empati.

Periset Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), Tayyip Malik mengungkapkan, rekrutmen dalam terorisme ada pola lama dan pola baru. Pola lama seperti yang dilakukan Jamaah Islamiyah. “Pada pola lama yang dulu, para tokohnya tidak serta merta langsung membaiat. Tetapi lebih dulu menyeleksi, siapa yang punya potensi atau prestasi. Beberapa menghasilkan pelaku teror yang terkenal sebelumnya seperti bom bali, bom Jakarta dan lainnya,” katanya dalam acara Nonton Bareng Bedah Film dan Bangun Kekritisan ‘Jihad Selfie’ di Gedung Fakultas Teknik Kampus Universitas Tidar Magelang, Jumat (1/11).

Sedangkan pola baru, pelaku menggunakan media sosial. Media sosial sebagai sarana merekrut dengan cara mempengaruhi, untuk menarik simpati dan empati. Namun demikian pola baru cenderung lebih sembrono karena bisa terdeteksi. Tayyip juga menjelaskan, selama ini pola rekrutmen dilakukan bukan di dalam kampus, tetapi luar kampus. “Namun tetap melalui sarana media sosial. Setelah masuk, kemudian awalnya akan ditanya apakah keluarganya berasal dari militer atau tidak. Karena latar belakang ini akan sangat berimbas pada sang perekrut,” imbuhnya.

Narasumber lainnya eks narapidana terorisme Machmudi Hariono menceritakan, meski sudah jadi eks, namun pernah ditawari kembali untuk bergabung menjadi pelatih bagi rekrutmen baru. Namun, ia menolak dan lebih bahagia menjalani kehidupannya yang sekarang. “Bagi saya, jika ada yang tertangkap pasti saya temui. Saya nasihati, saya bilang bahwa misal tidak mau dinasehati oleh kami-kami agar kembali ke NKRI, maka biar nanti Densus yang menasehati,” katanya sambil tertawa.

Machmudi menyebut penyebaran paham radikalisme ke sekolah-sekolah pun tetap bisa dilakukan oleh para tokoh. Namun demikian, penyebaran atau perekrutan biasanya dilakukan acara di luar, misal ada ngopi-ngopi ala pengajian.

“Kemudian puncaknya dikenalkan dengan adanya key person. Proses pembaiatan terbilang cukup singkat. Karena untuk pola baru, bukan hanya personel yang direkrut, tetapi cukup hartanya saja yang direkrut,” tandasnya.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Yosep Parera menegaskan, generasi muda yang terpapar dan akhirnya menganut paham radikalisme terorisme, merupakan dampak dari berbagai pihak. Dalam artian, mereka adalah korban ketidakkedulian negara sampai tingkar RT, serta masyarakat. “Sebagai contoh, RT jika mengetahui ada yang mencurigakan, maka segera laporkan hingga ke jenjang ke atas. Ini adalah pencegahan nyata karena kita peduli,” ajaknya. (had/ton)