alexametrics

Ketua Komisi D Kendal Menyayangkan Lulusan SMK Minim Soft Skill

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Ketua Komisi D DPRD Kendal Mahfud Sodiq menyayangkan, siswa lulusan SMK di Kendal belum bisa memenuhi kriteria karyawan di Kawasan Industri Kendal (KIK). Itu karena kurangnya soft skill dan alat praktek yang digunakan siswa di sekolah maupun Balai Latihan Kerja (BLK) belum sesuai di lapangan.

Mahfud mengatakan, siswa lulusan SMK di Kabupaten Kendal memiliki peluang besar dalam dunia kerja di KIK. Itu menjadi salah satu upaya untuk mengurangi angka pengangguran di Kendal.

“Contohnya seperti PT Eclat di KIK. Di sana membutuhkan enam ribu karyawan dan kita belum mampu secara kriteria dan skill. Karena kendalanya ada di alat praktek yang digunakan. Jadi berbeda dengan yang di pabrik. Itu menjadi PR kita,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang Selasa (5/7).

Baca juga:  Dua Pelaku Pembacokan saat Konvoi Kelulusan Ditangkap

Mahfud berharap, adanya kurikulum merdeka yang akan diterapkan di jenjang pendidikan SMK swasta di Kabupaten Kendal ini bisa membuat sekolah bersaing dengan sekolah lain di luar Kabupaten Kendal. Terlebih bisa memenuhi kriteria perusahaan di wilayah Kendal. Selain itu, pihaknya juga meminta agar siswa-siswi SMK dapat meningkatkan soft skill-nya untuk persiapan terjun ke dunia kerja.

“Banyak sekali perusahaan di Kendal itu juga mengeluhkan attitude dan soft skill masyarakat Kendal. Nah, untuk itu khususnya siswa-siswi SMK dalam masa jenjang pendidikan bisa meningkatkan soft skill-nya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah XIII Ernest Ceti Septyanti mengatakan, penerapan kurikulum merdeka di kalangan SMK swasta di Kabupaten Kendal diharapkan bisa membuat masing-masing kepala sekolah dan guru lebih kreatif dan inovatif. Itu dilakukan supaya lulusan SMK negeri maupun swasta di Kabupaten Kendal bisa bersaing dan bisa mengisi lapangan pekerjaan.

Baca juga:  Aiptu Heru Parwoko, Gadaikan Sertifikat Tanah untuk Dirikan Panti Asuhan

“Selain itu juga perlu inisiatif guru dan siswanya. Melalui workshop kurikulum, kita tingkatkan mutu pembelajaran,” tuturnya.

Ernest meminta, supaya guru di SMK tidak melulu memberikan pembelajaran hardskill saja. Melainkan juga memberi pelatihan soft skill untuk bekal siswa setelah lulus.

“Soft skill harus diperhatikan oleh guru SMK. Karena selama ini banyak keluhan perusahaan terkait soft skill lulusan SMK yang belum memadai,” tandasnya. (dev/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya