alexametrics

Kampung Nelayan Karangsari Kendal Terendam Banjir Rob, Warga Terpaksa Tidur di Perahu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Sudah tiga hari Kampung Nelayan di Kelurahan Karangsari terendam air rob. Kendati begitu, Mundrikah, 27, memilih tidur di perahu daripada ke tempat pengungsian.

Sudah tiga hari Mundrikah bersama suami, dua anak, dan ibunya tidur di perahu. Itu karena, rumahnya terendam air rob. Ketinggian airnya mencapai 30 cm saat pagi hari. Namun, saat banjir rob datang mencapai pinggang orang dewasa. Mundrikah menambatkan perahunya di teras rumah. Dia juga memboyong kasur, bantal, serta beberapa alat makan.

“Mau bertahan di sini saja. Gak mau di pengungsian,” katanya saat dikunjungi Jawa Pos Radar Semarang Rabu (25/5/2022) sore.

Kondisi itu membuat anaknya terpaksa libur sekolah. Mundrikah juga merasa baik-baik saja berada di atas perahu. Juga tak banyak aktivitas yang dilakukan. Ketika air rob mulai datang, Mundrikah dan keluarganya sudah berada di perahu. Hingga kini, belum ada anggota keluarganya yang terkena gatal-gatal.

Baca juga:  Fokus Berantas Bullying

Alhamdulillah setiap pagi dan sore juga dapat makanan dari petugas,” ungkapnya.

Susilah, 61, warga lainnya juga memilih bertahan di rumahnya daripada harus ke tempat pengungsian. Dia tinggal sendiri. Susilah menceritakan, saat air rob kali pertama datang langsung menerjang rumahnya. Kini, dia menutup semua pintu rumahnya. Susilah juga masuk ke rumah dengan melewati jendela.

“Jadi tidak sedikit-sedikit datangnya air itu. Kalo sekarang kan kayak udah ada aba-aba air mau datang,” bebernya.

Wanita tua ini juga tidak ingin meninggalkan rumahnya. Meski anak angkatnya yang di Gemuh memaksanya untuk tinggal bersama. Meski mengaku kesulitan, Susilah mengaku akan tetap bertahan. Namun, dia juga berkeinginan untuk menjual rumahnya.

Baca juga:  Banjir Rob di Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Akibat Rembesan Tanggul Laut

“Ini tahun terparah bajir rob. Saya pengen tinggal di daratan. Di sini memang susah. Mau saya tinggal kalau rumah sudah laku terjual,” tuturnya.

Sejak air rob masuk ke perkampungan, tak banyak aktivitas yang dilakukan warga. Bahkan anak-anak juga meliburkan diri tidak bersekolah.

Meski begitu, di SD N 3 Bandengan tetap melakukan aktivitas pembelajaran. Namun dibagi dua shift. Mulai jam 07.00 WIB hingga 09.00 WIB untuk kelas 1 sampai tiga.

“Setelah itu baru kelas 4 sampai 6. Siswanya pakai sendal dan gurunya ada yang pakai spatu bot,” kata Kepala SDN 3 Bandengan Siti Mardiyah.

Mardiyah melanjutkan, proses belajar mengajar hanya dilakukan di gedung sebelah utara. Sedangkan gedung sebelah selatan masih dalam proses rehab peninggian lantai.

Baca juga:  Dikenal Bengis, Dua Komplotan Begal Dibekuk

“Sehingga belum bisa digunakan. Sekarang sudah mulai ada anak yang gatal-gatal. Saya harap ada bantuan obat dari puskesmas,” tandasnya. (dev/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya