alexametrics

Tiap Tahun Kasus Narkoba di Kendal Naik Terus

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (BNNK) Kendal terus berperang melawan penyalahgunaan narkoba. Pasalnya, setiap tahunnya pengguna narkoba di Kabupaten Kendal meningkat.

Selama 2021, BNNK Kendal berhasil merehab 30 pengguna narkoba. Kebanyakan para pengguna berusia 18 tahun ke atas. Sebagian besar dari pengguna mengkonsumsi pil trihex, dextro, komik, dan riklona.

“Kalau pengguna sabu sedikit. Untuk masa rehabnya rata-rata tiga bulan dan itu sesuai  hasil skriningnya,” ungkap Kepala BNNK Kendal Anna Setiyowati kepada Jawa Pos Radar Semarang Selasa (15/3).

Lebih lanjut Anna menjelaskan, para pengguna narkoba direhabilitasi di klinik Bina Waras Kendal. Hingga saat ini, BNNK Kendal terus melakukan sosialisasi terkait bahaya penyalahgunaan narkoba.

Baca juga:  Bripka AA Simpan Sembilan Paket, AKP K 0,7 Gram Sabu

Pihaknya juga berhasil membentuk sekolah bersinar, desa bersinar, dan ponpes bersinar. Selain itu, BNNK Kendal juga melakukan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) di wilayah ramai penduduk yang memungkinkan adanya penyalahgunaan napza.

“Saat ini ada 130 ponpes bersinar dan 4 desa bersinar. Dan dalam program IBM itu yang direkrut adalah tokoh masyarakat. Karena dianggap memiliki kedekatan dengan masyarakat. Sehingga mereka bisa mengajak masyarakat untuk berkegiatan dan meminimalisir adanya penyalahgunaan narkoba,” terangnya.

Tak hanya itu, BNNK Kendal juga turut aktif dalam sosialisasi penyalahgunaan narkoba melalui media sosial. Adapun keberhasilan sosialisasi yang dilakukan BNNK Kendal mencapai 90 persen.

“Untuk ungkap kasus dari tahun 2020 itu sama dengan 2021 yaitu 36 kasus. Lalu 2019 ada 29 kasus, dan 2018 ada 28 kasus. Jadi kasus narkoba ini terus mengalami peningkatan. Tidak peduli kondisi pandemi atau normal,” jelasnya.

Baca juga:  Perempuan Boleh Jadi Pemimpin

Rencananya, pada 2022 ini akan ada lima desa bersinar yang akan dirintis. Yakni di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Weleri, Ngampel, dan Patebon.

“Wilayah itu dipilih karena melihat kerawanan terjadinya peredaran narkoba. Saya harap masyarakat lebih terbuka dan bisa bekerja sama untuk memerangi narkoba,” tandasnya. (dev/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya