alexametrics

Malam Tahun Baru, Harga Telur Tembus Rp 32 Ribu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kendal — Akhir tahun, harga telur ayam di Pasar Tradisional Kendal melonjak tinggi. Yakni mencapai Rp 32 ribu per kilogram.

Padahal harga telur pasaran biasanya hanya berkisar Rp 19-20 ribu. Artinya harga telur mengalami kenaikan sebesar 60 persen.

Kenaikan harga tersebut menuai banyak keluhan. Warga meminta kepada pemerintah untuk betul-betul memantau kenaikan harga sembako di akhir tahun ini.

Salah satu warga Sulastri, warga Kaliwungu mengaku kenaikan harga telur ini sudah terjadi selama lebih kurang satu pekan ini. “Katanya stok telur turun, jadi harganya dinaikkan dari peternak,” katanya.

Kenaikan tersebut mengakibatkan ia harus berhemat. Sebab biasanya 20 ribu dapat satu kilo. Kini dengan uang yang sama hanya mendapatkan 6 ons saja. “Minta tolonglah kepada pemerintah untuk ikut aktif memantau harga-harga, kasihan masyarakat,” paparnya.

Baca juga:  Pembangunan Perumahan Komunitas di Kendal Capai 60 Persen

Menanggapi hal kenaikan harga, Suwardi, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah, sekaligus Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal mengatakan, naiknya harga telur ayam ini karena harga pakan ternak ayam naik sampai 20 persen.

Kenaikan tersebut sesuai Permendagri tahun 2020. Harga pakan ternak ayam paling tinggi Rp 5.700, tetapi ternyata naik sampai Rp 7.200 per kilogram. Jika dikonversi dengan harga pokok produksi (HPP), maka harga pakan 7.200 x 3,5 maka hasilnya Rp 24.500 per kilogram.

“Kalau dari peternak di Kendal itu, rata-rata mengambil keuntungan sedikit. Malah dari koperasi, kami menjual dengan Rp 27 ribu per kilogram.  Jika dikonversi hanya naik 10 persen, dengan acuan HPP,” jelasnya.

Baca juga:  21 Daerah di Jateng Mencatatkan Nol Kasus Positif Covid-19

Lebih lanjut Suwardi menjelaskan, pada September-November lalu, para peternak di Kendal mengurangi populasi. Malah sebagian peternak ada yang kolaps alias bangkrut akibat harga telur di tingkat peternak atau koperasi anjlok. Yakni hanya dihargai Rp 12 ribu per kilogram.

Padahal harga pakan ternak ayam justru naik. Sehingga pada saat itu, rata-rata per hari mengalami rugi antara Rp 7.000 – 9.000 rupiah per kilogram.

Makanya, untuk menekan kerugian yang tinggi, para peternak mengurangi populasi ayam ternaknya, sehingga produksi telur pun turun. “Semula produksi telur 320 ton per hari, sekarang turun menjadi 260 ton per hari,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kendal, Ferinando Rad Bonay mengatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan paguyuban pedagang telur dan dan paguyuban peternak ayam. Menurutnya, naiknya harga telur hingga tembus Rp 32 ribu per kilogram, karena produksi telur mengalami penurunan.

Baca juga:  Warga Serbu Sentra Vaksinasi Gradhika

“Penyebabnya, karena para peternak mengurangi populasi ternaknya dan sebagian ada yang terserang penyakit. Hal itu mempengaruhi produksi telur ayam, akibatnya harga menjadi naik,” tuturnya. (bud/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya