alexametrics

Terduga Teroris Ditangkap Usai Salat Subuh di Kendal dan Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KENDAL – Dua warga Kendal dan dua warga Kota Semarang ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri. Mereka terduga teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI).

Dua warga Kendal yang ditangkap adalah Nur Priono Hadi dan Bambang Budiono. Sedangkan dua warga Kota Semarang yang diamankan adalah DS, 45, warga Kelurahan Pendrikan Lor Semarang Tengah dan  FIF, 45, warga Jalan Banjarsari, Kelurahan Tembalang, Kecamatan Tembalang.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan,  Nur Priono Hadi ditangkap di rumah kontrakannya di Kelurahan Bugangin. Sedangkan Bambang Budiono diciduk di rumahnya di Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal. Keduanya ditangkap di usai salat subuh sekitar pukul 04.50, Jumat (13/8).

Nur Hariani, istri terduga teroris Nur Priono Hadi mengaku tidak tahu jika suaminya ditangkap oleh Tim Densus 88. “Seperti biasanya suami berangkat ke musala lebih awal. Sementara saya menyusul belakangan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun saat sampai di musala, ia melihat tidak ada sandal suaminya. Waktu itu, ia berpikir mungkin suaminya salat subuh di masjid. Tapi saat pulang dari musala, ia juga tidak mendapati suaminya Nur Priono Hadi. Sepeda motor juga ada di rumah, handphone, dan dompet juga masih ada di kamar. Hariani baru tahu kalau suaminya ditangkap saat petugas kepolisian datang untuk melakukan penggeledahan rumahnya.

“Paginya sejumlah polisi datang. Bilang kalau suami saya ditangkap karena masuk jaringan Jamaah Islamiyah. Saya sempat ditanya-tanya, tapi saya jawab tidak tahu,” akunya.

Setelah itu, polisi melakukan penggeledahan ke seluruh isi ruangan rumahnya. Ia pun hanya bisa melihat saat rumahnya digeledah. Pertama polisi menanyakan tas ransel gunung, dan perlengkapan mendaki milik suaminya. Kemudian menggeledah kamar, serta ruang tengah.

Menurut Hariani, polisi membawa dua buah CPU komputer, laptop, telepon seluler dan sejumlah buku-buku milik suaminya. “Ada beberapa buku yang dibawa seperti judul Kenapa Saya Dihukum Mati, Imam Mahdi, dan dua buku lainnya,” ujarnya.

Baca juga:  Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Kakak Beradik di Batang

Sedangkan terduga teroris Bambang Budiono diamankan di rumahnya di Kelurahan Kebondalem. Tidak ada aktivitas di rumah yang berada di pinggir jalan  ini. Rumah tampak tertutup, dan tidak ada penghuni lainnya.

Menurut sejumlah tetangga, Bambang Budiono jarang keluar, dan hanya keluar saat salat jamaah di masjid terdekat. “Tidak ada yang tahu penangkapan Bambang, warga juga tidak ada yang mendengar,” kata Udin, tetangga Bambang.

Diakuinya, jika Bambang orangnya memang jarang keluar. Sehingga tetangga tidak ada yang mengenal, dan mengetahui aktivitasnya selama ini.

Belum ada keterangan resmi dari Polres Kendal terkait penangkapan dan penggeledahan di rumah kedua terduga teroris ini.  Kapolres Kendal AKBP Yuniar Ariefianto menyerahkan pada penyidik di Polda Jateng.

Sementara itu, dua warga Kota Semarang diamankan Tim Densus 88 Antiteror Polri, Jumat, (13/8) sekitar pukul 04.30. Mereka juga diduga terlibat jaringan teroris JI Kepala Sub Bidang Pelayanan Personel, dan satu orang lainnya sebagai bendahara T1 atau Tabligh.

Terduga teroris DS diamankan di depan rumah tinggalnya di Gang Damai III, Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, sekitar pukul 04.50. Pria ini diduga anggota JI yang  bertugas sebagai Kepala Sub Bidang Pelayanan Personel.

Seorang terduga teroris lainnya, FIF, warga Jalan Banjarsari, Tembalang. Ia ditangkap di rumah tinggalnya di Jalan Bukit Teratai, Sendang Mulyo, Kecamatan Tembalang, usai pulang dari masjid sekitar pukul 04.51.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Iqbal Alqudusy membenarkan adanya penangkapan tersebut. Namun demikian, pihaknya belum bersedia membenarkan terkait hal ini.

“Iya, ada penangkapan terduga teroris di beberapa tempat di wilayah Jateng

Namun untuk lebih jelasnya nanti dari Densus 88 Antiteror dan Div Humas Mabes Polri yang akan memberikan penjelasan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari informasi yang dihimpun, penangkapan terduga teroris dilakukan di wilayah Kota Semarang, Solo, Kabupaten Sragen, Sukoharjo, Kendal, Pekalongan, dan Purwokerto. Penangkapan dan penggeledahan dilakukan sejak Kamis (12/8) hingga Jumat (13/8) kemarin.

Baca juga:  Densus 88 Tembak Mati Terduga Teroris di Sukoharjo

Berdasarkan penelusuran Jawa Pos Radar Semarang, rumah terduga DS berada di perkampungan kecil, tidak jauh dari Mapolsek Mijen. Kurang lebih berjarak satu kilo meter. DS ditangkap usai keluar dari Masjid Kasmuri Nurussalam, Wonolopo, sekitar 50 meter dari rumahnya.

“Tadi subuh terjadi penangkapan salah satu warga kami, yang diduga masuk dalam Jaringan Jamaah Islamiyah,” ungkap Ketua RT, Roni, yang didampingi Sekretaris dan Bendahara RT.

“Kalau dari penjelasan anggota polisi yang sudah melakukan penggeledahan, itu sudah dibuntuti waktu mau berangkat ke masjid. Setelah pulang dari masjid, ditangkap di depan rumahnya,” tambahnya.

Roni menyebutkan, polisi yang menangkap tidak berpakaian dinas. Jumlahnya lebih dari 10 orang dan membawa mobil. Namun setelah penangkapan, Roni mengaku tidak tahu selanjutnya dibawa ke mana.

“Penangkapannya kita tidak mengetahui. Kalau penggeledahan tadi jam 10.30. Barang yang diamankan saat penggeledahan, empat buah HP jadul, dua HP Android. Lima buku, buku rekening, dan dua lembar kertas peta,” bebernya.

“Ibu dan anak-anaknya juga kaget, tidak mengetahui beliau ditangkap. Ini istri dan anaknya di rumah semua,” tambahnya.

Ia menambahkan, DS tinggal di Wonolopo sudah empat tahun besama enam anak dan satu istri. DS sendiri sehari-hari tidak memiliki pekerjaan tetap alias serabutan.

“Dia pernah kerja retail kaos kaki. Kadang dimintai bantuan tetangga yang membutuhkan tenaga beliau. Orangnya supel, sosialnya tinggi. Setiap ada kegiatan kerja bakti, kesripahan, salah satu yang bersemangat membantu ya beliau,” terangnya.

Rumah DS terlihat biasa saja. Terletak di samping kanan pintu masuk atau portal. Namun terlihat sepi. Hanya terdapat satu unit sepeda motor yang terparkir di depan rumah.

“Rumahnya juga terbuka. Kebetulan setiap sore di rumahnya ada kegiatan anak-anak sekitar mengaji bersama istrinya,” katanya.

Baca juga:  Ilmu Pemerintahan FISIP Undip Gelar Entrepreneur Class

Terkait adanya warga luar yang keluar masuk rumah DS, Roni tidak menampik hal itu. Namun sementara ini yang datang ke rumah DS masih warga sekitar Wonolopo. Meski tidak mengenal, namum paham dengan orang-orangnya.

“Orang sekitar sini saja. Kalau orang luar wilayah sini saya kurang tahu. Kalau ke luar kota, beliau dua minggu yang lalu mengantarkan anaknya ke ponpes di wilayah Boyolali,” jelasnya.

Berdasarkan penelusuran di wilayah Kelurahan Pendrikan Lor, Semarang Tengah, Ketua RT setempat Surahman membenarkan adanya penggeledahan di rumah DS yang dilakukan anggota polisi. Namun pihaknya tidak mengetahui dugaan keterlibatan DS dalam perkara terorisme.

“Saya gak tahu. Sebenarnya dia itu warga Gayamsari, dapat istri orang sini. Itu sebelum saya menjabat ketua RT. Dulu dia penjual kacamata keliling. Terus pindah-pindah, terakhir katanya menempati rumah di Mijen,” jelasnya.

Surahman menyebutkan, DS adalah sosok yang pendiam. Terakhir bertemu dan berkomunikasi ketika DS datang ke rumahnya untuk meminta surat pengantar mengurus anaknya sekolah.

“Dua tiga tahun yang lalu minta surat untuk anaknya terkait pendaftaran sekolah sama bantuan. Apakah di sana (Mijen) belum diakui warga sana atau bagaimana, katanya surat pindahnya belum diurus,” katanya.

Sedangkan penelusuran koran ini di rumah FIF, di Jalan Banjarsari, Tembalang, merupakan rumah tinggal lama, dan sekarang dikontrak orang lain. Suasana di depan rumah kontrakannya tidak ada keramaian. Menurut salah satu warga, FIF dalam kesehariannya menggantungkan hidupnya dengan berjualan kambing.

“Sudah bertahun – tahun tidak ke sini. Memang KTP-nya ikut sini, tapi tempat tinggalnya di Meteseh, Tembalang. Warung makan yang di depan itu rumah yang dikontrakan,” ungkap Kasmirah.

Pihaknya menyebutkan, FIF adalah warga pendatang. Bersama anak dan istrinya, ia sempat tinggal di Jalan Banjarsari. Ia dikenal sebagai warga yang ramah.  “Dulu sekitar tahun 2005 atau 2007 sering silaturahmi kalau lebaran,” katanya. (bud/mha/mg2/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya