alexametrics

Pelabuhan Dangkal, Keberangkatan Kapal Tunggu Air Pasang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Kondisi Pelabuhan Kendal kian memprihatinkan. Pasalnya kondisi perairan di dermaga kapal kian dangkal. Akibatnya kapal kesulitan saat akan berlabuh maupun saat akan berangkat.

Pantauan koran ini, Kapal KMP Kalibodri sebagai satu-satunya kapal yang beroperasi di  Pelabuhan Kendal harus berangkat dini hari. Pukul 03.00 WIB. Kondisi tersebut sudah berlangsung tiga pekan ini.

Pemberangkatan dini hari bukan lantaran jadwal kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry. Tapi karena dermaga dangkal. Kapal baru bisa dijalankan saat air pasang.

“Jadi jadwal keberangkatan tidak bisa dipastikan, karena kapal harus menyesuaikan air laut pasang,” tegas Yulianto, agen tiket KMP Kalibodri.

Ia mengakui, kondisi dermaga Pelabuhan Kendal setiap tahun kian dangkal. Kedalaman di area sandar kapal tak lebih dari dua meter.  Padahal idealnya  dermaga kapal paling tidak memiliki kedalaman  minimal 5-7 meter.

Baca juga:  Kebun Anggrek Ikon Baru Kota Magelang

“Makanya harus menunggu air pasang, baru mesin kapal bisa jalan. Kalau dipaksakan berangkat saat air laut surut, mesin kapal bisa cepat rusak,” jelasnya.

Kondisi tersebut, diakuinya membuat para penumpang KMP Kalibodri harus menunggu lama. Bahkan sampai lima jam. “Saya berharap ada perhatian dari pemerintah agar dermaga ini dikeruk,” harapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kendal Suharjo mengakui dermaga sudah dangkal. Bahkan ada kerusakan bagian breakwater. Kondisi tersebut mempercepat pendangkalan di area pelabuhan.

Tapi pihak Pemkab Kendal tidak bisa berbuat banyak. Sebab area pelabuhan, khususnya laut adalah kewenangan dari Kementerian Perhubungan. “Pemkab Kendal hanya bisa mengusulkan untuk dilakukan normalisasi atau pengerukan,” tuturnya.

Baca juga:  Antisipasi Bencana, BPBD Bangun Posko

Pihaknya mengaku sudah beberapa kali mengusulkan. Tapi sampai saat ini belum terealisasi lantaran anggaran dialihkan untuk penanganan Covid-19.

Sebenarnya, lanjutnya, ada pihak swasta yang mau  melakukan pengerukan. Dengan keuntungan, pasir laut akan digunakan untuk pengurukan lahan. “Saat ini masih dikaji bersama Pemerintah Provinsi Jateng terkait izinnya,” tandasnya. (bud/zal/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya