Warga Kebonadem Dikepung Banjir Bercampur Sampah

240
Banjir yang menggenang di  pemukiman warga Desa Kebonadem, Kecamatan Brangsong akibat luapan Sungai Waridin (31/5/2020).  (Budi Setiyawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Hujan lebat yang mengguyur daerah Kendal mengakibatkan sejumlah wilayah mengalami banjir di Desa Kebonadem Kecamatan Brangsong. Sebanyak 200 rumah warga di dua RW desa setempat tergenang air setinggi 30-50 sentimeter.

Genangan air membanjiri jalan dan pemukiman warga. Banjir terjadi akibat luapan air sungai Waridin yang volumenya naik. Air masuk pemukiman warga bercampur dengan sampah dan lumpur berwarna kecoklatan.

Mohammad Arifin, 35 warga setempat mengatakan  jika banjir mulai masuk ke pemukiman warga sejak pukul 04.30. “Semalam hujan tiada henti, bahkan sampai pagi hari hujan terus. Akibatnya sungai Waridin tidak mampu menampung banyaknya air, akhirnya masuk rumah-rumah warga,” katanya.

Luapan air menggenangi sebagian besar RW 2 dan 3, Dukuh Kauman. Kondisinya terus bertambah naik dan mencapai puncaknya pukul 06.00. “Rumah warga yang belum ditinggikan banjirnya bisa setinggi setengah meter. Tapi sebagian rumah warga sudah ditinggikan ada yang terdampak ada juga yang terendam dan kemasukan air beserta lumpur sedikit,” jelasnya.

Banjir diakuinya tidak hanya terjadi di dukuh Kauman saja, tapi juga Dukuh Malang dan Kradenan. Hanya saja banjir terparah dialami warga yang bermukim di bagian barat Desa Kebonadem. “Yang terparah di dua RW ini RW 2 dan 3 yakni dukuh Kauman,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Robani, 59, warga lainnya.  Ia menambahkan jika jembatan utama penghubung Desa Brangsong dengan Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kaliwungu terendam sejak malam. Sehingga warga tidak bisa melintas.

Hal tersebut diperparah dengan pintu air di saluran irigasi yang mengarah ke pesawahan rusak. Akibatnya air dari sungai meluap ke pemukiman warga. “Pintu air di pengairan tidak bisa dibuka tutup. Jadi saat debit air sungai naik pintu, sedianya pintu air dibuka agar aliran air lancar. Tapi tidak bisa, sehingga air meluap membanjir rumah warga,” akunya.

Pihaknya pun sudah melaporkan rusaknya pintu ke pihak dinas terkait namun tak kunjung ada perbaikan. “Tahun kemarin ada banjir saat tanggul jebol, semua rumah terendam,” jelasnya.

Warga lainnya, Khumaidi mengatakan jika warga akhirnya bergotong royong dengan membendung  menggunakan pelepah pohon pisang dan  pasir yang dimasukkan dalam karung. “Banjir mulai surut sekitar pukul 07.30 saat hujan reda  dan volume air sungai  mulai turun,” akunya. (bud/bas)





Tinggalkan Balasan