Bekali Santri Ngaji Ekonomi dan Bercocok Tanam

Sejumlah santri di Pondok Pesantren Azzahro Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon melakukan kegiatan bercocok tanam. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Usai setoran hafalan Alquran setelah salat Subuh, belasan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Azzahro Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal berjalan menuju ladang. Mereka menyirami tanaman bawang merah. Beberapa di antaranya mencabuti rumput yang tumbuh di sela tanaman itu.

Kegiatan itu berlangsung sampai matahari beranjak siang. Yakni sekitar pukul 09.00. Usai merawat ladang mereka kembali membersihkan diri untuk kembali bersiap salat sunah Duha dan kembali setoran hafalan Quran kepada Ibu Nyai Musyarofah sang pengasuh Ponpes Azzahro.

Kegiatan hafalan Quran selama Ramadan, dilaksanakan empat kali. Yakni sehabis salat Subuh, sehabis salat sunah Duha sekitar pukul 10.00, ba’da salat Duhur dan ba’da salat Tarawih. “Ya, beginilah suasana Pesantren Azzahro saat pagi. Para santri kami ajak ke ladang untuk bertani. Mereka ada yang menanam bawang merah dan sayur-sayuran,” kata Ulil Albab salah seorang pengasuh di Ponpes Azzahro.

Ia sengaja mengajarkan santri bertani. Baginya mengaji tidak hanya dari kitab-kitab dan Alquran Hadis saja. Tapi di ladang, para santri bisa belajar mengaji kehidupan dan keagungan Allah SWT. “Santri memahami betapa agungnya Allah sang pemberi kehidupan dan rezeki. Menumbuhkan biji-bijian dan tanaman sehingga bisa kita nikmati. Maka kewajiban santri untuk menjaga alam agar tetap lestari,” katanya.

Yang utama, lanjut Gus Albab—sapaan akrabnya—santri tambah cerdas, memiliki keterampilan dan kemampuan bercocok tanam. Hal itu sangat berguna bagi santri, sehingga saat keluar mereka betul-betul siap bermasyarakat.

“Tidak semua santri akan menjadi dai atau penceramah. Makanya, bekal ilmu tambahan sangat penting. Mereka bisa tetap mengajarkan Islam sesuai profesinya masing-masing kelak,” tandasnya.

Kegiatan bertani di Ponpes Azzahro diakuinya beda dengan petani pada umumnya. Adalah pertanian organik, tidak menggunakan pupuk kimia. Melainkan pupuk-pupuk alami seperti pupuk kompos dan pupuk kandang dari kotoran hewan.

Selain bercocok tanam, santri juga diajari keterampilan wirausaha lainnya. Seperti beternak ayam petelur, berdagang, membuat kerajinan gerabah, seni kaligrafi dan sebagainya.

“Harapan kami, santri selesai mengaji betul-betul mandiri. Yakni, mandiri secara keilmuan dan secara ekonomi. Ketika berada di tengah masyarakat, mereka tidak menjadi beban, tapi sebaliknya menjadi pencerah yang bisa mengajarkan masyarakat ilmu agama dan ilmu ekonomi,” tambahnya.

Untuk kegiatan ngaji kitab-kitab kuning alias Arab gundul atau Arab tanpa harakat, diakuinya selama Ramadan ini dilakukan secara live streaming. Hal itu lantaran banyak santri yang sudah pulang sebelum Ramadan akibat pandemi virus korona.

“Saat ini yang ada masih sekitar 30 santri dan pengurus yang tinggal di pondok. Itupun rata-rata santri lokal Kendal. yang bisa pulang sewaktu-waktu jika mau berlebaran,” imbuhnya. (bud/ida/bas)





Tinggalkan Balasan