Ramadan Fokus Hafalkan Alquran

471
Sejumlah santri PPTQ Miftahul Huda, Desa Krajan Kulon, Kaliwungu nampak tengah menghafalkan ayat-ayat Alquran. (Budi Setiyawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Suara lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar bersahut-sahutan di sepanjang waktu di Pondok Pesantren Tahafudhul Quran (PPTQ) Miftahul Huda, Desa Krajan Kulon Kecamatan Kaliwungu. Ratusan santri nyaris menghabiskan waktu selama Ramadan ini untuk tadarus maupun program hafalan (Tahfidz) Alquran.

Sore (13/5/2020), usai jamaah Salat Ashar, puluhan santri putra langsung mengambil tempat di lantai dua pesantren setempat. Mereka duduk bersila di depan dampar (meja kecil). Para santri itu langsung membuka Alquran yang sedari tadi mereka pegang erat dalam dekapan dada mereka.

Sebelum taawudz (membaca doa pelindungan dari setan), para santri itu mencium Alquran. Kebiasaan mencium Alquran ini merupakan adab dan bahagian dari mencintai dan sikap mengagungkan Alquran sebagai firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mereka kemudian membaca Alquran dengan beriring-iringan. Beberapa di antaranya ada yang membaca tanpa melihat teks Alquran. Tapi sesekali mereka melihat mushaf tersebut untuk memastikan surat maupun yang akan dihafalnya.

Lebih kurang setengah jam santri menghafal. Sementara dari tangga lantai nampak berjalan naik bawah KH. Ahmad Baduhun sang pengasuh sekaligus pendiri PPTQ Miftahul Huda. Sang kiai karismatik itu langsung duduk didepan para santri di tempat yang telah disediakan.

Setelah membacakan ummul kitab secara bersama para santri mulai setoran hafalan. Yakni mengujikan hafalannya kepada sang kiai untuk dinilai benar atau salah.  Baik secara Tartil, Tahqiq, Tahdzir dan hadzr.

Bukan kepalang, sang kiai itu langsung menyuruh tiga santri maju untuk diuji secara bersamaan hafalan Alquran-nya. Meski menguji tiga santri secara bersamaan, KH Baduhun nampak santai. Bahkan dengan jeli ia membenarkan bacaan Alquran jika santrinya yang salah dalam melafalkannya.

Para santriwan dan santriwati di pesantren yang diasuh oleh KH Ahmad Baduhun Badawi memang dikhususkan untuk santri yang akan menjadi hafiz maupun hafizah. “Ya beginilah suasana pondok saat Ramadan, rata-rata santri memang lebih untuk kegiatan menghafal Alquran,” kata KH Baduhun.

Ia mengaku memang sudah terbiasa menguji setoran Alquran tiga santri sekaligus secara bersamaan. Meski bacaannya berbeda ayat dan surat yang dibacanya, namun ia tetap bisa mendengar jelas satu persatu bacaan dari santrinya.

“Santri yang di samping kiri saya ini sedang membaca surat Al-Mujadilah, samping kanan saya membaca surat Yusuf dan yang di depan saya ini sedang membaca Surat Al-Naml. Tidak bingung, karena memang sudah terbiasa,” akunya.

Baik selama Ramadan maupun bulan-bulan biasa, santri di pesantrennya memang lebih banyak menghabiskan waktu untuk hafalan Alquran. Tapi selama puasa ini memang ada fokus. Karena selama Ramadan pahala itu seperti diobral. Bahkan setiap ibadah akan dilipatgandakan pahalanya. “Kalau ngaji 24 jam, tapi kalau setoran hafalan empat kali sehari. Yakni sehabis Subuh, sebelum Duhur, setelah Ashar dan setelah tarawih,” tandasnya.

Selain Alquran, selama Ramadan ini juga menghatamkan sejumlah kitab lainnya. Yakni Kitab Tafsir Yasin karangan Syaikh Khamami Zadah (khusus santri laki-laki). Dan Kitab Sahih Targhib Wa Tarhib karangan Syaikh Nashiruddin Al-Albani (khusus santriwati). “Satu lagi Kitab Mauidhotul Mukminin dikarang oleh ulama yang terkenal alim dan ahli tafsir, yaitu Muhammad Jamaluddin Al-Qosimi Al-Dimasqi dari Persia,” kata Hasan Dzulfikar, Putra KH Baduhun. (bud/bas)





Tinggalkan Balasan