Puasa Sejak Perjaka, Insya Allah sampai Akhir Hayat

704
Pengasuh PPTQ Miftahul Huda, Desa Krajan Kulon, Kaliwungu, KH Ahmad Baduhun Badawi saat menguji setoran hafalan Quran santrinya. (Budi Setiyawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Puasa bagi KH Ahmad Baduhun Badawi adalah hal biasa. Bagaimana tidak, selama hidupnya puasa sudah menjadi kebiasaan setiap hari yang selalu ia kerjakan. Jadi saat Ramadan atau tidak Ramadan, baginya tidak ada bedanya.

Bedanya, menurut Pendiri Pondok Pesantren Tahafudhul Quran (PPTQ) Miftahul Huda ini saat Ramadan ini mendapatkan ibadah tambahan berupa Salat Tarawih. “Selain itu (tarawih, Red) ya biasa dan sama, karena memang setiap hari saya puasa,” kata KH Baduhun.

Ya, KH Baduhun mengaku jika dirinya selalu melakukan amalan puasa sunah setiap hari sudah sejak puluhan tahun silam. Tepatnya saat ia masih berstatus seorang perjaka, sekitar usia 12-15 tahun.  “Memang setiap hari puasa, kecuali tiga hari tasyrik (larangan puasa, Red),” jelasnya.

Hari Tasyrik adalah hari raya umat Islam. Yakni Hari Raya Idul Adha 10 dzulhijjah dan tiga hari sesudahnya. Yakni 11, 12 dan 13 Dzulhijah. Selain itu  Hari Idul Fitri pada 1 Syawal. “Puasa ini saya akan saya amalkan Insya Allah sampai akhir hayat atau ajal menjemput. Semoga bisa terus istiqomah,” tuturnya.

Kebiasaan puasa diakuinya karena memang keadaan terjepit. Yakni saat kecil, Baduhun sudah ditinggal ibu bapaknya KH Badawi yang telah meninggal. Sejak saat itu, Baduhun mengaku jika hidupnya dan keluarganya serba kekurangan. “Jadi sering tidak makan adalah hal biasa waktu saya kecil,” akunya.

Sejak saat itulah, karena sudah sering tidak mendapatkan makan, Baduhun membiasakan dirinya untuk berpuasa. “Akhirnya lama kelamaan menjadi terbiasa, bahkan sampai saya menikah, punya anak hingga mendirikan pondok bahkan sampai sekarang puasa itu sudah menjadi hal biasa,” paparnya.

Baduhun mengaku, beberapa fadilah puasa yang dirasakannya adalah terutama untuk kesehatan. Ia mengaku tubuhnya meski sudah tua sangat jarang sakit-sakitan. Bahkan dirinya tidak merasakan tubuhnya lemas dan lesu. Tapi sebaliknya merasa sehat.

Fadilah lainnya adalah tentu akan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena puasa adalah ibadah, sehingga setiap ibadah akan dicintai Allah. Saat itulah ia merasa jika hajat-hajatnya dapat dengan mudah dan cepat dikabulkan oleh Allah.

Salah satunya adalah ia memohon kepada Allah agar anak turunnya semua bisa menjadi penghafal Quran. “Alhamdullilah, delapan anak saya semua sudah Hafal Qur’an. Yang paling kecil saat ini sudah Kelas 2 SMP dan juga sudah  Hafiz,” tuturnya.

Menurutnya, kemampuan seseorang menghafal Quran bukanlah lantaran faktor (nasab) keturunan. Melainkan lantaran anugerah dari Allah SWT semata. “Sebab banyak orang hafiz tapi anaknya tidak bisa hafiz. Ada juga orang biasa tapi anak-anaknya bisa hafiz semua,” tuturnya. (bud/bas)





Tinggalkan Balasan