Talut Bodri Makin Parah, Warga Dusun Pilang Waswas

Kepala DPUPR Kendal Sugiono bersama Plh Kabid Sungai Bendungan dan Pantai Pusdataru Jateng Rahman Wahyu Adi memantau kondisi talut Sungai Bodri di Desa Lanji. (Budi Setiyawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Longsoran talut sungai Bodri di Dusun Pilang, Desa Lanji Kecamatan kini semakin parah. Jika tidak segera diperbaiki, maka bisa mengancam warga saat terjadi banjir.

Pantauan koran ini, longsor talut sungai Bodri yang terjadi awal tahun lalu itu kondisinya semakin melebar. Yakni mengalami longsor lebih dari 50 meter. Bahkan talut setinggi lima meter dan lebar 10 meter itu hanya menyisakan bagian tepi berupa bronjong batu.

Dengan kondisi tersebut, warga di Dusun Pilang yang berjumlah 250 keluarga menjadi waswas. Sebab jika sungai meluap, maka talut bisa jebol dan membanjiri permukiman warga.

Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Provinsi Jawa Tengah akan segera memperbaiki dan membangunnya. Dalam pekan ini akan diperbaiki secara darurat dengan cara memperlebar sungai ke arah barat. Sehingga tekanan sungai ke talut timur akan berkurang.

“Dengan begitu maka akan mengurangi risiko memperparah talut di sisi timur yang jebolnya semakin parah. Rencananya, Kamis kami akan mendatangkan alat berat untuk mengeruk sungai di sisi barat,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang (Kabid) Sungai Bendungan dan Pantai Pusdataru Jateng Rahman Wahyu Adi, Selasa (17/3/2020).

Penanganan darurat dengan membuka sisi tanggul bagian dalam dengan tebal 10 meter hingga 20 meter dan lebar 300 meter. Tujuanya dapat mengurangi debit air yang mengalir ke tanggul yang kini dalam kondisi memprihatinkan tersebut. “Penanganan darurat tanggul Sungai Bodri ini merupakan kesepakatan antara Pusdataru Jateng dengan DPUPR Kendal. Nantinya ada dua alat berat dikerahkan. Pengerjaanya sekitar 2-3 minggu,” tuturnya di sela meninjau tanggul Sungai Bodri.

Sedangkan pembangunan talut secara permanen akan dilakukan dengan memperlebar sungai. Rencananya akan dilaksanakan tahun ini sekitar Juni-Juli mendatang. “Saat ini masih dalam proses lelang, begitu selesai akan langsung dikerjakan,” tuturnya.

Pembangunan talut permanen membutuhkan tanah seluas 4.300 meter persegi. Yakni dengan memperlebar talut agar tidak jebol. Setidaknya ada 12 rumah yang akan dibebaskan karena terdampak pembangunan talut. “Tapi 12 rumah tersebut sudah ada kesepakatan harga, dengan ganti rugi nanti diberikan pada anggaran perubahan. Yakni setelah proyeknya dikerjakan,” jelasnya.

Kepala DPURR Kendal Sugiono, menambahkan, pembuatan talut permanen, lokasinya tidak jauh dari tanggul lama yaitu dengan jarak 23 meter. Tinggi talut baru permanen akan dibuat sama dengan tanggul lama karena hal itu menyesuaikan dengan permukaan air. Sedangkan panjang tanggulnya 300-400 meter.

“Tapi sebelum talut permanen, akan diperbaiki secara darurat terlebih dahulu. Harapanya dengan perbaikan darurat nanti, bisa mengurangi resiko banjir sehingga warga Desa Lanji tidak begitu waswas,” katanya. (bud/ton/bas)

Tinggalkan Balasan