Murdoko Nyalon Bupati Kendal

Hari Pertama, 35 Balon Mendaftar di PDIP Jateng

278
”Saya sebagai kader PDIP, ingin sekali merebut Kendal, sehingga dijabat kader PDIP.” Murdoko, Balon Bupati Kendal
”Saya sebagai kader PDIP, ingin sekali merebut Kendal, sehingga dijabat kader PDIP.” Murdoko, Balon Bupati Kendal

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pendaftaran bakal calon (balon) kepala daerah dan wakil kepala daerah DPD PDIP pada Pilkada 2020 dibuka mulai Jumat (6/12) kemarin hingga Kamis (12/12) mendatang. Puluhan orang, mulai kader maupun di luar kader dari berbagai daerah, mendaftar di Panti Marhaen Semarang.

Ketua Panitia Pendaftaran Bakal Calon Kepala Daerah DPD PDIP Jateng Abang Baginda Muhammad Mahfuz Hasibuan mengatakan, ada sebanyak 35 orang  pendaftar. Enam orang mendaftar sebagai bakal calon bupati dan 29 di antaranya bakal calon wakil bupati.  ”Blora 2 orang, Klaten 1, Wonogiri 8, Magelang 1,  Grobogan 10, Sukoharjo 5, Kendal 3, Solo 2, Kabupaten Semarang 1, Rembang 1, dan Purworejo 1,”  bebernya.

Dijelaskan, mekanisme pendaftaran ada dua tahap, yakni pengambilan formulir dan pengembalian formulir. “Tanggalnya sama, cuma untuk pengambilan formulir pada hari terakhir akan dilayani sampai pukul 24.00 malam,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Abang Baginda menjelaskan, pada hari pertama pendaftaran kemarin, belum ada bakal calon yang mengembalikan berkas. Menurutnya, para pendaftar akan lebih dulu melengkapi dokumen pendukung dan lain sebagainya. “Tahun depan ada 21 kabupaten/kota di Jateng yang menggelar Pilkada. DPD PDIP Jateng mewadahi atau mengakomodasi calon yang mungkin kemarin belum sempat mendaftar di tingkat DPC PDIP Kabupate/kota,” paparnya.

Untuk kriteria bakal calon yang dipilih, Abang Baginda membeberkan yang paling utama adalah senafas dengan ideologi partai belambang banteng moncong putih ini. Artinya, DPD PDIP membuka kans bakal calon dari luar kader PDIP. “Nanti akan ada fit and proper test dulu, bagaimana peluangnya di Pilkada,” tambahnya.

Dari 21 daerah di Jateng yang menggelar Pilkada serentak, lanjut dia, DPD PDIP Jateng menargetkan hasil yang maksimal. Namun terkait jumlah pasti daerah mana yang akan menang, Abang Baginda belum bisa menjelaskan secara rinci, karena harus melihat kondisi politik masing-masing daerah, pemetaan, dan lainnya. “Ada mekanismenya, nanti ada survei dulu dan pemetaan. Jadi, belum bisa saya sampaikan sekarang,” ucapnya.

Disinggung terkait rekomendasi partai, pihaknya menjelaskan sesuai aturan rekomendasi nama dari PDIP akan turun dari DPP. Sedangkan DPD dan DPC sendiri bertugas menjaring calon, kemudian nama-nama calon akan diserahkan kepada DPP untuk dipilih. “Nanti DPP yang menentukan, menurut undang-undang pemilu kan juga sama, yang didaftarkan sebagai peserta Pilkada harus ada rekomendasi dari pusat kan? Jadi nggak bisa DPD atau DPC yang mengeluarkan rekomendasi,” katanya.

Pada hari pertama kemarin, putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka belum terlihat datang.  Padahal, sebelumnya Gibran dikabarkan serius untuk maju menjadi calon Wali Kota Solo dan akan datang mendaftar di DPD PDIP Jateng. “Mas Gibran memang menyampaikan akan mendaftar melalui DPD, namun belum tahu kapan waktunya,” ucapnya.

Berdasarkan data pendaftar bakal calon kepala daerah DPD PDIP hari pertama, yang mendaftar sebagai calon bupati di antaranya ada Purwadi (sebagai balon Bupati Sukoharjo), Sri Enik (sebagai balon Bupati Blora), Ihwan Sudrajat (sebagai balon Bupati Blora), Murdoko (sebagai balon Bupati Kendal), dan Ida Hartono (sebagai balon Bupati Klaten).

Salah satu yang mendaftar di kantor DPD PDIP Jateng adalah mantan Ketua DPRD Jateng Murdoko. Politisi senior PDIP ini mendaftar sebagai bakal calon Bupati Kendal. Keputusan maju dalam pilkada 2020 karena merasa prihatin, posisi Bupati Kendal saat ini tidak dijabat kader PDI Perjuangan.

”Saya sebagai kader PDIP, ingin sekali merebut Kendal, sehingga dijabat kader PDIP,” ujarnya usai mengambil dan mengisi formulir didampigi sejumlah kader PDIP.

Selain itu, ia menilai Kendal saat ini jauh tertinggal dibanding kabupaten lainnya. Padahal, potensi kabupaten ini sangat luar biasa. Ditambah, sejumlah proyek yang digagas kepala daerah kader PDIP belum terwujud. ”Seperti KIK dan pelabuhan. Itu sangat berpotensi mengangkat ekonomi kerakyatan. KIK 15 tahun ini berjalan, baru 30 persen. Kalau sudah 100 persen terlaksana, itu akan sangat banyak menyerap tenaga kerja,” katanya.

Ia optimistis dengan  keputusannnya ini mengingat kepemimpinan kader PDIP di Kendal dinilainya bagus dan masih dirindukan oleh masyarakat.

Murdoko sempat vakum dari dunia politik setelah menjalani masa hukuman dalam kasus korupsi APBD Kabupaten Kendal 2004. Meski demikian, keputusannya matang. Karena, menurutnya, dalam kasus tersebut, dirinya adalah korban politik. ”Kalau saya kemarin tidak merasa korupsi. Tapi korban politik. Orang korupsi adalah orang yang pekerjaannya melakukan kesalahan dan ada kerugian negara. Bagaimana saya bersalah, orang saya bukan pejabat di Kendal,” bebernya.

”Maka saya percaya diri bahwa saya bukan pelaku korupsi,” imbuhnya.

Untuk meningkatkan popularitas, dirinya akan segera bergerak setelah mendaftarkan diri. Terutama ke struktural partai untuk kemudian ke masyarakat. (sga/den/aro)