GBL Tutup, Penghuni Wisma: Monggo Mampir, Mas, Nyanyi…

445
BERKEMAS: Wanita pekerja seks komersial di Lokalisasi Gambilangu, Dukuh Mlaten, Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu sedang mengemasi barang-barangnya untuk bersiap pulang kampung. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERKEMAS: Wanita pekerja seks komersial di Lokalisasi Gambilangu, Dukuh Mlaten, Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu sedang mengemasi barang-barangnya untuk bersiap pulang kampung. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Tiga hari pascapenutupan, Lokalisasi Gambilangu (GBL) Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu, Kendal dan Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang tampak lengang. Tidak ada transaksi prostitusi. Meski begitu tempat hiburan karaoke masih tetap beroperasi. Tercatat ada sedikitnya 140 wisma karaoke di eks kompleks prostitusi yang terletak di perbatasan Kendal dan Kota Semarang ini.

Saat koran ini datang ke GBL, sejumlah wanita mangkal di sejumlah wisma karaoke. Mereka menawarkan jasa sebagai pemandu karaoke. “Monggo mampir, Mas, nyanyi sini, saya temenin,” ajak salah seorang cewek cantik dengan pakaian mini serbaketat. Meski buka, kemarin hampir semua wisma karaoke di GBL sepi. Hanya beberapa saja terdengar suara dentuman musik, dan sejumlah kendaraan bermotor yang diparkir. Tapi rata-rata kondisi wisma karaoke sepi tak ada pengunjung.

Sugito, warga setempat mengakui, pascaditutup, kondisi kampungnya sepi dari ingar-bingar dan lalu lalang kendaraan pengunjung.
“Sebelum ditutup, kondisi kampung ini ramai sampai jam 12 malam. Banyak pria mondar-mandir. Sepanjang jalan ini biasanya banyak pekerja seks yang mangkal dan menawarkan diri. Tapi kini sepi sekali,” katanya.

Ketua Resosialisasi GBL wilayah Kendal Kasmadi mengatakan, pihaknya telah melarang praktik prostitusi sejak ditutupnya lokalisasi. Namun para penyedia jasa karaoke tetap melaksanakan aktivitas bisnisnya. “Yang ditutup prostitusinya, tapi tempat karaokenya tetap dibuka. Karena sudah punya izin operasi,” ujarnya.

Seperti diketahui, dari total 145 WPS di Gambilangu Kendal, yang mendapatkan tali asih hanya 100 WPS. Kasmadi sendiri sampai saat ini mencoba mencarikan cara agar 45 WPS sisanya bisa mendapatkan tali asih, sehingga bisa pulang kampung. “Nggak tahu dulu gimana pendataannya, karena ada 45 WPS yang nggak dapat. Kami coba mencarikan solusi dengan Pemkab Kendal,” tuturnya. Terkait usaha karaoke di GBL Kendal, Kasmadi mengaku total ada 60-an wisma. Semua wisma, lanjut dia sudah memiliki izin usaha sejak 2005 lalu. “Kalau usaha karaoke sudah ada izinnya, Mas, “tandasnya.

Pantauan koran ini di GBL wilayah Semarang siang hari, banyak wisma karaoke yang tutup. Kondisi ruas jalan di lokalisasi itu sendiri lengang. Tidak ada kendaraan pengunjung  yang berlalu-lalang. “Sudah pada pulang embak-embaknya. Dari Selasa lalu, habis mendapatkan tali asih langsung pulang ke kampung halaman. Ada juga yang hari ini baru pulang karena ada keperluan,” kata pria yang mengaku bernama Darsono ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut pria berperawakan gempal ini, sejak munculnya isu akan ditutupnya GBL oleh Kementerian Sosial melalui Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal setempat,  kondisi GBL langsung sepi, bahkan keadaan ini terjadi sampai hari H. “Sebelumnya sudah sepi, nggak ada yang karaoke. Wisma karaoke di sini juga sudah banyak yang tutup,” ujarnya.

Meski telah ditutup, usaha karaoke di GBL tetap berjalan seperti biasa. Bedanya tidak boleh ada prostitusi. Kalaupun ngeyel atau curi-curi, pengurus setempat siap memberikan teguran bahkan pelanggar aturan bisa diancam pasal pidana.

“Kemarin sudah berkomitmen untuk menutup prostitusinya. Kalau ngeyel ya ada risikonya, bisa dipenjara 9 bulan dan denda Rp 50 juta. Dari Satpol PP Kota Semarang ataupun Kendal, pasca ditutup juga berjaga, dibantu aparat kepolisian dan TNI,” kata Kaningsih, pengurus GBL Semarang.

Wanita yang akrab disapa Mami Toyo ini menjelaskan, dari 126 WPS (wanita pekerja seks) yang ada di wilayahnya sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Selain itu, masalah tali asih kepada para WPS pun sudah beres dan diterima oleh masing-masing WPS. Namun ia mengaku ada tiga WPS yang enggan menerima, karena takut masuk media eletronik ataupun media massa.

Mami Toyo sendiri sudah mewanti-manti kepada pemilik wisma karaoke yang ada di GBL Semarang. Kalaupun ada WPS yang masih ingin tinggal dan bekerja, hanya diperbolehkan menjadi pemandu karaoke. “Tidak boleh menerima jasa plus-plus pokoknya, kalau di luar GBL itu urusan mereka. Kalaupun ada yang nekat ya, bukan tanggung jawab kami,” tambahnya.

Jumlah wisma karaoke yang ada di GBL Semarang, lanjut dia, dulunya sekitar 93 wisma. Namun setelah didata ulang, saat ini ada 80 wisma, karena banyak yang tutup lantaran sepi. Ia mengaku, beberapa waktu lalu sebelum dilakukan penutupan lokalisasi, sempat dilakukan rapat dengan Satpol PP Kota Semarang dan muncul kebijakan warga bisa usaha karaoke ataupun kuliner di GBL.

“Tapi nggak ada prostitusinya, kalau karaokenya sih masih buka sampai sekarang. Tapi ya sepi, hanya ada satu dua tamu yang datang. Ibaratnya menggik mentol, apalagi saat ini ada petugas yang jaga. Tamu jadi enggan masuk, ” akunya.

Ditanya perizinan dari wisma karaoke yang ada di GBL, Mami menjelaskan jika semua wisma yang ada belum memiliki izin. Dahulu pemilik karaoke sempat ingin mengajukan, namun ditolak karena setelah disurvei tidak memenuhi syarat. “Dulu katanya nggak memenuhi syarat, setelah ditutup (lokalisasi, Red) kami akan membentuk paguyuban pengusaha karaoke GBL, tujuannya agar bisa mengurus izin usaha, intinya kami siap ikut peraturan pemerintah,” paparnya. (den/bud/aro)