Turonggo Purbo Diglontor Kemensos Rp 50 Juta 

132

RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Paguyuban Seni Kuda Lumping Turonggo Purbo Laras Desa Kalipakis, Kecamatan Sukorejo, menerima bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) sebesar Rp 50 juta. Bantuan tersebut diberikan untuk memajukan seni budaya kuda lumping yang menjadi andalah warga Sukorejo.

Diharapkan bantuan tersebut bisa menambah semangat warga Sukorejo terutama para pemudanya untuk terjun dan melestarikan kesenian tradisional kuda lumping. “Dengan bantuan ini, kami bisa membeli alat dan pakaian seni seperti grup-grup kuda lumping lainnya,” kata ketua Paguyuban Seni Kuda Lumping Turonggo Purbo Laras Desa Kalipakis Ngahadi di sela pememntasan seni kuda lumping bertajuk Penguatan Kearifan Lokal Budaya Nusantara.

Hadir dalam helatan tersebut perwakilan Dinas Sosial Jawa Tengah, kepala Dinas Sosial Kendal Subarso mewakili Bupati Kendal  Mirna Annisa dan Camat Sukorejo beserta Forkopimcam, kades Kalipakis.

Ngahadi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kemensos atas bantuan yang sudah diberikan. “Bantuan ini pastinya sangat bermanfaat bagi paguyuban kesenian kuda lumping yang ada di desa kami,” ujarnya.

Dijelaskannya jika pementasan yang digelarnya merupakan wujud pelaksanaan program dari Kemensos. Bantuan yang diberikan sudah diperuntukkan untuk membeli peralatan lengkap untuk kesenian sebesar Rp 40 juta, pementasan Rp 8  juta dan Rp 2 juta untuk pembelian ATK.  “Ini kami perlu sampaikan ini karena memang petunjuk penggunaan bantuan dari Kemensos demikian,” tambah Ngahadi.

Kepala Dinas Sosial Kendal, Subarso menyampaikan jika seni adalah lambang kemakmuran. “Seni merupakan penguatan lokal sebagai lambang kemakmuran suatu daerah, dan seni itu diciptakan dari cipta karsa manusia yang luar biasa adiluhung,” katanya.

Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial mewakili Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah, Anik mengatakan  di Jawa Tengah yang mendapat bantuan dari Kemensos ada 19 paguyuban. Salah satunya adalah Paguyuban Kuda Lumping di Desa Kalipakis.

Tujuan dari bantuan kearifan lokal tidak hanya nguri-uri budaya  saja. Tapi juga untuk mencegah dan penanganan bencana sosial. Seperti bencana yang timbul karena konflik-konflik yang ada di masyarakat. (bud/zal)